RI 1
Tak terasa pemilihan orang no wahid di Negara kita
tercinta akan segera dimulai, tgl 9 Juli 2014 adalah saksi sejarah perjalan
bangsa ini akan di mulai, walaupun dimulai tidak dari awal, tapi saya kira serasa
sang Presiden yg terpilih harus memulai kembali strategi dari awal untuk
membangun Negara ini, karena seperti yang kita ketahui hampir disetiap lini dan
sector terasa dan terlihat sepeti luluh lantak, hancur tak bisa di harapkan,
terutama sector moral bangsa ini, korupsi dimana-mana, mulai dari tender anak
mentri yang menyeret seorang office boy yg menjelma menjadi direktur utama,
sampai korupsi di departemen agama yang notabene nya adalah sebagai barisan paling
depan mencontohkan ahlak dan moral yang baik, malah menjadi perampok
kitab-kitab Al-quran, perampok dana-dana haji hingga trilyunan rupiah,
pertanyaannya, dimanakah hati mereka para pejabat kekuasaan yang menjalankan mandat
rakyatnya berada ?
Di sector keaman, khususnya di hubungan keamanan
antar Negara, pemerintah sekarang juga terasa lambat merespon kasus-kasus yang
terjadi, seperti banyak kasus yang melibatkan Negara tetangga kita Malaysia yang
sering kali membuat ulah, seperti kedaulatan Negara ini sudah terinjak karena
lambatnya respon pemerintah.
Di sector ekonomi, khususnya tentang kesejahteraan
buruh dan pekerja, masih diberlakukannya system outsourcing membuat ketidak
pastian dan kegundahan di hati para bekerja bila nantinya kontrak mereka habis
dan tidak diperpanjang lagi, dan ini tentu saja menguntungkan pihak pihak
perusahaan yang dengan system ini etika timbal balik yang saling menguntungkan,
sangat tipis dengan keputusan semena mena dari pihak perusahaan.
Dan masih banyak lagi dari sector-sector lainnya
seperti sumber daya alam kita yang di kelola pihak asing, BUMN kita yang di
jual pihak asing, kurikulum pendidikan yang masih terasa gimana gitu :), pembangunan yang
tidak merata antara pulau jawa dan pulau lainnya, infra struktur yang terasa
buruk di daerah-daerah terpencil, birokrasi kompleks, dan segudang masalah
lainnya yang menunggu presiden yang terpilih nantinya.
Di sini saya hanya menyoroti strategi dua capres
yang paling mendasar, yang menurut saya sangat mendasar dan bisa merubah paradigma
bangsa ini, dan strategi yang lainnya seperti sama dan terdengar umum di
telinga kita, bagaimana visi dan misinya yang pastinya sama yaitu untuk
memajukan bangsa ini selama lima tahun kedepan.
Strategi yang paling mendasar yang saya lihat
adalah, perjanjian koalisi yang coba dibangun oleh PDIP terasa baru dan segar,
yaitu “Koalisi Tanpa Syarat “ yaitu
tidak membicarakan jatah-jatah kekuasaan di awal koalisi, koalisi ini seperti “haram”
membicarakan bagi-bagi kekuasaan sebelum memenangkan pertarungan suara rakyat ini, dalihnya adalah hal ini
baru akan dibicarakan setelah pemenangan pemilu itu sendiri, dan belum tentu
juga posisi-posisi yang strategis akan diberikan kepada teman-teman koalisinya,
karena jabatan-jabatan itu nantinya akan dipilih kepada orang yang paling tepat
dan sesuai akan keahliannya di bidang masing-masing dan belum tentu dari
orang-orang partai, bisa juga pemilihan itu dari orang-orang professional dibidangnya,
setidaknya itulah yang saya tangkap dari kesan koalisi “Tanpa Syarat” ini.
Sedangkan koalisi yang di bangun oleh Gerindra dan Kawan-kawan
menggunakan system bagi bagi kekuasan di awal koalisi (perjanjian siapa dapat
apa,tawar menawar kursi jabatan
kedepannya) dan itu wajib dibicarakan diawal koalisi. Model ini seperti yang
kita ketahui sebelumnya, model ini terjadi turun temurun dari
pendahulu-pendahulunya, seperti yang terjadi di pemerintahan SBY kemarin,
bagi-bagi kursi jabatan begitu kental terasa, siapa dapat apa, tawar menawar kekuasaan
terjadi di dalam kunjungan ketua umum mereka, dan ini bisa dipastikan terjadi
untuk kepentingan partai sendiri, karena mereka disandera oleh pertanggung
jawaban ketua kepada anggotanya bagaimana nasib partai kedepannya, model
koalisi yang saya percaya membawa perpecahan kepentingan nanti kedepannya,
karena sangat memungkinkan bila pengambilan kekuasaan nanti akan ditentang oleh
kawan koalisinya sendiri seperti kasus kenaikan BBM yang terjadi di
pemerintahan SBY yang ditentang oleh PKS, yang notabene nya PKS adalah anggota
koalisi SBY, yang tidak seharusnya berlawanan kepentingan dalam keputusan
tersebut, dan masih menurut saya akan banyak kejutan-kejutan lainnya di model
koalisi seperti ini.
Namun pastinya saya hanya memberikan opini saja,
yang dibatasi kemampuan nalar yang sangat terbatas, keputusan ada ditangan Anda
sekalian, dan saya pikir pengamatan Anda lebih tajam dan bijaksana di banding
saya :)
Selamat pesta demokrasi semua, pemilihan presiden
tahun ini terasa sangat menarik dan sukar untuk di prediksi, dikarenakan calon
kedua pasangan memiliki kelebihan dan kekurangan yang setara, sama-sama kuat,
cerdas, dan visi misi yang sangat detail.
Dan seperti apa yang dikatakan Ust Yusuf Mansyur,
kedua calon ini harus selalu didoakan, dan bila terpilih nantinya jangan ada
perbedaan siapa kalah dan menang, semua harus mendukung pilhan rakyatnya, dan
pengamat bilang : kedua calon presiden ini belum terbukti memimpin sebuah
bangsa sebesar Indonesia, jadi yang sangat membantu adalah wakilnya #kode :)

0 komentar:
Posting Komentar