Andai anda sebagai penguasa, pemenang yang dipilih secara sah oleh rakyat Anda, melalui proses pemilihan secara umum, apa yang kira-kira Anda lakukan, kalau ada orang atau sebagian kelompok ingin menjatuhkan Anda ? mempertahankan ? atur siasat ? serang balik ? tidaklah salah apa yang Anda pikirkan, itu adalah insting secara alamiah, mempertahankan, atur siasat dan serang balik.
Politik memang kotor dan keras, sehingga Anda yang bermain di pusaran itu, siap-siap terima konsekuensinya. Di saat Anda sudah mengatur rencana sebaik-baiknya selama 5 tahun kedepan, dari segi sosial, ekonomi, infrastruktur, pendidikan, budaya, mental, dll, tiba-tiba terganggu akibat sebagian orang atau kelompok, memporak porandakan kertas rancangan Anda, merobek-robeknya hingga menjadi serpihan, menjadikan tenaga untuk membangun negri ini, habis dialihkan ke hal yang lain, di bombardir dari kiri, kanan, atas dan bawah, ibarat Anda menjadi Ayah dan mempunyai 5 anak, dari lima bersaudara ini, ada satu yang membangkang, tidak tahu aturan, pembuat onar dan gaduh, melanggar etika-etika yang sudah ditetapkan dalam keluarga, anak ini harus di beri pelajaran, minimal dinasehati, walaupun masih ngeyel ya harus di hukum.
Disinilah saya melihat dari sudut pandang yang lain, bahwa presiden Indonesia, sedang mempertahankan, mengatur siasat, dan memberi hukuman kepada anak yang membangkang ini, bahwa dia merasa "saya masih menjadi ayah kalian wahai anak-anaku, kewajiban bagi saya bahwa mensejahterakan kalian semua, kalian tidak usahlah takut akan masa depan yang tidak pasti,bahwa saya akan selalu bersama kalian dalam susah ataupun senang" Kira-kira begitulah bapak presiden kita ingin berbicara kepada bangsa ini.
Namun apa boleh buat bila ada salah satu anggota keluarga yang membuat gaduh, yang tidak perduli bahwa saudara-saudaranya yang lain ingin merasakan ketenangan, kumpul bersama keluarga, bercerita satu sama lain, anak ini harus diberi hukuman. karena dia tidak mengerti arti keluarga. maka dimulailah siasat-siasat dijalankan, hukuman pun di mulai. Seperti yang kita lihat sekarang di media-media, tv ataupun on-line, ada kesan kejadian-kejadian ini telah di atur, atau direncanakan sang "Ayah". penangkapan ini penagkapan itu, pemanggilan ini-itu ke kepolisian, tuntutan ini dan itu, dan apakah itu wajar, "wajar" kalau dari sudut pandang ayah memberikan hukuman kepada anaknya yang membangkang, proses ini adalah hukuman yang diberikan oleh sang ayah kepada anaknya.
Menurut opini saya, semua ini sebenarnya hanya ulah tetangga yang sirik dan rakuskepada keluarga kita, bahwa di tanah keluarga kita, semuanya serba melimpah, dari emas dan perak, bijih besi, minyak, batu bara, gas alam, bauksit, nikel semua itu ada di pekarangan halaman kita. mulailah pikiran rakus tetangga kita ini ingin menguasai apa yang kita punya, segala cara dia tempuh untuk mengeruk kekayaan keluarga kita ke halaman mereka, sialnya dahulu kala, kakek kita itu pernah bekerja sama dengan tetangga itu, jadi semenjak jaman bapak kita, kerja sama itu di stop, kontan itu membuat tetangga sebelah kelojotan, pusing tujuh keliling, memikirkan, bagaimana cara dia mengeruk harta keluarga kita.
Akhirnya dengan taktik licik, kalau bapaknya tidak bisa saya pengaruhi, setidaknya anaknya pasti bisa, tetangga sebelah pun mulai menghasut, salah satu anak dari keluarga kita, dan tanpa sadar, anak ini mulai termakan hasutan tetangga kita, anak ini lepas kendali, tidak bisa melihat dengan kepala dingin, bahwa dia telah termakan hasutan. yang membuat saudar-saudara nya khawatir, khawatir akan hukuman yang diberikan oleh ayah mereka, bahwa setidaknya dia adalah sudara mereka juga.
Isu yang rentan di keluarga kita adalah soal agama, maka dari itu tetangga kita tahu betul, bahwa dari sisi ini dia akan masuk, mencari semua ketidak adilan yang dibuat oleh ayah mereka, mencari semua kesalahan yang dicampur bumbu keagamaan, hingga akhirnya anak yang dihasut ini sudah semakin menjadi, mulai membawa-bawa saudaranya untuk ikut menjatuhkan sang ayah, dan untung saudara-sadarnya yang lain tidak terhasut, tinggalah ia seorang diri, menanti hukuman dari sang ayah, dan apakah salah bila seorang ayah menghukum anaknya yang kelewatan ? mungkin Anda sendiri yang bisa menjawab, dan mungkin hanya orang bodoh yang bisa di adu domba dengan saudaranya sendiri, karena ulah tetangganya yang rakus

0 komentar:
Posting Komentar