AGAN AGAN PENGEN PUNYA ANAK-ANAK YANG HEBAT ?
BACAAN WAJIB BUAT ORTU & CALON ORTU
(RINGKASAN BUKU 25
KIAT MEMBENTUK ANAK HEBAT KARYA PENULIS AKRAM MISBAH UTSMAN)
Alhamdulillah ane kesampaian ngeringkas buku lagi, ane mau
share tentang gimana sih bikin anak-anak kita nantinya, biar menjadi anak hebat
yang kita cita-citakan ?
Nah kayanya ada 25 langkah yang mesti Agan-agan lakuin, (ko
banyak bener ?, ya iyaaaa laah, masa mau bikin anak hebat usahanya dikit,
pengorbanan lah siki, hehehe, jreeeeng (serius).
Selama ane hidup di dunia yang fana ini hehehe (blom serius
ternyata), hehehe, ane ngeliat ada anak yang baik, ada juga anak yang bandel
gan, walaupun dalam artian bandel bukan kriminal, kan doi masih kecil (blom bisa
di sebut kriminal), tapi ngga menutup kemungkinan kalo bandelnya trus menerus
di lakuin, di piara, di olah lagi, (berteman sama anak2 sesama bandel pula) ada
kemungkinan besar ntar udah gedenya nih anak bakal ngejurus ke criminal. Karna
ane ngeliat dari keluarga yang baik2 sampe keluarganya yang ancur berantakan,
hasilnya pasti beda gan, nah tugas bapak sama emak nya dah tuh yang ngelurusin
pribadi anak anak tadi.
Sebenernya ane ngeliat semua itu 75% kuncinya ada di ortunya
gan, sebagai pengemban amanat dari Yang Maha Kuasa, orang tua “bertanggung
jawab” untuk membentuk kepribadian anak sejak masa pertumbuhannya, semua pengalaman
yang dilalui oleh anak tersebut, dari semenjak perkembangan pertamanya, bakal
berpengaruh besar dalam kehidupannya nanti gan.
Kalo agan-agan sebagai ortu atau calon ortu bisa ngejalanin
langkah-langkah ini Insya Allah anak agan bisa hebat seperti yang kita2 cita-citakan,
dan seperti yang sering kita doa-doakan sehabis kita ibadah (amiin), tanpa
banyak cincong, yo langsung aja, cekibrot gan.
* MULAILAH
DARI DIRIMU SENDIRI
“Sesungguhnya
telah ada pada (diri) Rasullullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu)
bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan dia
banyak menyebut Allah” (Al-Ahzab: 21)
Seorang
anak membutuhkan teladan yang baik, dan dia mengambil teladan dari orang tuanya
atau dari para guru nya, karena dia mempunyai kecendrungan untuk meniru dan
mencontoh, maka dia akan mencontoh dan meniru perilaku orang yang dia sukai, serta
berusaha tampil seperti orang yang dia sukai.
Umar
Ibnul Khathab r.a sebelum memberikan suatu perintah atau suatu larangan kepada
manusia, maka terlebih dahulu dia mengumpulkan keluarganya dan berkata, “Amma
ba’du, sesungguhnya aku akan mengajak manusia untuk melakukan ini dan ini, dan
aku bersumpah atas nama Allah Yang Mulia bahwa tidak satu orang pun dari kalian
yang dilaporkan kepadaku bahwa dia melakukan perbuatan yang telah aku larang
manusia untuk mengerjakannya atau dia meninggalkan perbuatan yang aku
perintahkan manusia untuk melakukannya, kecuali dia aku kenakan siksa yang amat
pedih.”
Jika
kitaperhatikan keadaan anak-anak muda zaman sekarang, maka kita saksikan jiwa
mereka dipenuhi dengan perasaan putus asa, rasa lemah dan sia-sia. Di sebabkan
mereka mengidolakan orang-orang yang sesat dan menyimpang, maka mereka tidak
mempunyai jati diri, dan tidak mempunyai jiwa loyalitas terhadap peradaban,
nilai-nilai yang mulia dan agama, yang telah mencetak berbagai tokoh yang
dipuja-puja dan dia diperhitungkan oleh dunia.
*JANGAN
BERLAKU KERAS PADANYA
Terkadang
kami jumpai ada sebagian anak yang terlihat lemah atau tidak mampu untuk
melaksanakan beberapa pekerjaan yang di bebankan kepadanya, sedangkan para
bapak sering mengandalkan pukulan untuk membiasakan anak agar mampu
melaksanakan tanggung jawab yang dibebankan kepadanya, bahkan barangkali bukan
hanya para bapak yang menggunakan pukulan kepada anaknya, tetapi para ibu juga
banyak yang mengandalkan pukulan untuk menumpahkan kemarahan yang menggumpal di
dalam dada mereka, dan sekaligus untuk mengeluarkan berbagai beban persoalan
yang mereka hadapi.
Barangkali
para orang tua tidak menyadari bahwa pukulan adalah perbuatan yang dapat
menyebabkan hancurnya kepribadian anak, karena si anak merasa terancam dan
ketakutan dengan perlakuan orang tuanya, dalam hal ini akan muncul di dalam
diri si anak rasa marah dan kebencian terhadap orang tua, juga timbul keinginan
untuk membalas dendam kepada orang tuanya dan rasa permusuhan, atau pengucilan
dirinya dari keluarganya dan masyarakat sekelilingnya.
Akhirnya
timbul ketidakstabilan pada jiwanya, yang membuat dia merasa tertekan dan
ketakutan, atau muncul berbagai permasalahan pada dirinya seperti kleptomania,
suka berbohong, atau kencing yang tidak disengaja, penakut, selalu ragu-ragu (tidak
mempunyai kemampuan untuk menentukan keputusan), minder, terkucil (tidak mempunyai
kemampuan untuk membina hubungan dengan orang lain) dan berbagai permasalahan
kejiwaan yang lainnya.
Penerapan
landasan pendidikan yang berdasarkan metode memberikan ganjaran (hadiah) dan
hukuman ini, dapat membentuk tingkah laku yang baik bagi anak, menumbuhkan
nilai positif dalam dirinya, menjadikan dia tidak mudah menyerah, dan
memotivasi dia untuk bersungguh-sungguh dan menaruh perhatian pada potensi dan
kemampuan dirinya.
*BERIKAN
DIA KEPERCAYAAN DIRI
Berkaitan
dengan masalah ini, Dr. Zainab Ridhwan, Profesor Dirasah Keislaman di
Universitas Kairo mengatakan, “Sifat malu mempunyai pengaruh yang besar pada
kepribadian anak, menjadikan anak terkucil, takut berhadapan dengan orang lain,
dan tidak dapat bergaul dengan baik, serta tidak dapat meninggalkan kesan yang
bagus kepada orang lain, maka ketika anak ini menjadi dewasa, dia akan kehilangan
berbagai haknya kepada orang lain.
Dan
untuk mengobati sifat malu pada anak adalah dengan membiasakan anak untuk
memiliki sifat pemberani dan maju memperkenalkan dirinya, oleh karena itu,
orang-orang muslim zaman dahulu mengajarkan anak-anak mereka berenang, memanah,
dan menunggang kuda, karena semua kegiatan tersebut dapat membentuk jiwa anak
untuk mampu membuktikan kejantanan dan keberaniannya “.
*JANGAN
JADIKAN DIA SEBAGAI EKORMU
Jika
engkau katakan kepada salah satu orang tua bahwa anakmu membutuhkan bantuanmu,
barngkali orang tersebut akan merasa heran dan aneh, karena bantuan orang tua
terhadap anak adalah sesuatu yang alami, akan tetapi jika engkau berusaha
menanyakan kepada orang tua tersebut tentang bentuk bantuan tersebut serta
metode yang harus digunakan dalam memberikan bantuan tersebut, maka dia akan
terdiam dan tidak dapat menjawab pertanyaanmu.
Karena
yang dia tahu adalah, dia selalu memberikan bantuan kepada anaknya dalam
memenuhi semua kebutuhan makanan, minuman dan pakaiannya, belum lagi berbagai
kebutuhan mainan dan hiburan yang diinginkan sang anak dan semua jenis
kebutuhan ini di mata orang tua adalah bantuan abadi yang tidak akan terhenti
sepanjang umur anak.
Begitulah
cara manusia mendidik anak, dan mereka lupa untuk memberikan hak anak yang
paling mendasar, yaitu hak kemandirian.
Anak-anak
tidak menyukai metode dikte dan nasihat secara langsung, karena cara tersebut
mereka anggap sebagai suatu usaha untuk mematikan keinginan mereka, serta
campur tangan orang lain terhadap kehidupan pribadi mereka. Rasa kasih saying,
keamanan dan ketenangan yang diberikan oleh orang tua, menimbulkan rasa tentram
dalam jiwa anak dan akan membuat dia mampu mengungkapkan kepada keluarganya apa
yang dia rasakan dalam dirinya. Manakala dia melihat bahwa keluarganya selalu
siap untuk mendengarkan berbagai keluhannya, maka dia termotivasi untuk
mendiskusikan kepada mereka berbagai persoalan yang dia hadapi.
Anak-anak
kita hidup dan terdidik di zaman yang berbeda dari zaman kita, maka kondisi
yang mereka hadapi berbeda dari kondisi kita dahulu, dan dunia yang mereka
tempati berbeda dari dunia kita dulu. Misalnya kita ceritakan kepada mereka
bahwa dulu untuk mencapai sekolah kita harus berjalan kaki berjam-jam lamanya,
atau bagaimana kita harus bekerja keras demi untuk mendapatkan sesendok makan.
Hal-hal yang seperti ini tidak akan mendapatkan tempat dan perhatian dari
anak-anak kita, jika mereka tidak siap mendengarkan nasihat kita.
*JAGALAH
KEMERDEKAAN ANAK
Adas
berkata (1995), “Pada suatu hari aku duduk di sebuah restoran, dan di sampingku
duduk sepasang suami istri dengan anak mereka yang mencapai umur lima tahun,
manakala pelayan menyerahkan minuman kepada mereka, anak kecil tersebut
mengulurkan tangannya untuk mengambil gelas minuman tersebut, maka kedua orang
tuanya saling berlomba mengajarkan dan memberikan aturan kepada anaknya cara
mengambil gelas agar anak itu terlihat santun di hadapan manusia, dan untuk
menghindari agar jangan sampai minuman itu tumpah ke bajunya, seakan-akan kedua
orang tuanya mewajibkan anaknya untuk tidak melakukan sesuatu apapun sebelum
mendapatkan berbagai petunjuk dari orang tuanya. Si anak kecil itu menjadi
bingung dan tidak tahu lagi apa yang mesti di perbuat. Akhirnya ia menolak
untuk memakan apa saja yang disodorkan
kepadanya dan dia bersikeras atas sikapnya itu, maka kedua orang tuanya saling
melemparkan pandangan menyalahkan antara satu dengan yang lain.”
Anak
kita merasa bahagia jika dia berhasil melaksanakan suatu pekerjaan betapapun
kecilnya pekerjaan tersebut, akan tetapi, kita selalu menganggap anak kita
masih kecil dan dia membutuhkan bantuan kita tanpa kita biasakan untuk memikul
tanggung jawab dan menjalankannya dalam kehidupannya sehari-hari.
Sikap
keras kepada anak timbul manakala antara keinginan anak untuk memerdekakan
kepribadiannya dan menunjukan kepada orang tuanya bahwa dia mempunyai
keberadaan sendiri yang harus di hormati, dan keinginan ibu yang tidak mau
mengakui kemerdekaan pribadi anaknya dan memarjinalkan peran anaknya dan
mengabaikan keberadaannya, saling bertabrakan.
*JANGAN
TERLALU BERLEBIHAN DALAM MELINDUNGINYA
Berbagai
reset yang dilakukan mengatakan bahwa sikap mau terima beres yang ada pada diri
anak berkaitan erat dengan sikap para ibu yang cenderung berlebih-lebihan dalam
melindungi anaknya. Sikap yang sikap berlebihan dalam memanjakan anak dapat
mengakibatkan, melemahnya sisi kemampuan anak untuk mengemban tanggung jawab,
karena semua keinginannya selalu terpenuhi, menjadikan anak memiliki kontrol
terhadap orang tua, tercipta rasa sombong dan besar kepala dalam diri anak, dan
dia selalu mengulangi kata-kata,”Ayahku tidak akan pernah menolak
permintaanku,”atau “Ibuku tidak akan mampu mengatakan tidak kepadaku.”,
timbulnya sikap perlawanan anak terhadap otoritas orang tuanya, tidak menaruh
hormat terhadap orang tuanya, atau tidak mau melaksanankan peraturan yang
diterapkan orang tuanya, menjadikan anak tidak mampu berdikari dan tidak mampu
melakukan berbagai aktifitas kecuali bila ada orang lain yang membantunya
(terhambatnya kematangan sosial dan emosi anak) menjadikan anak selalu meminta
perlindungan dan pertolongan secara berkesinambungan dan tidak mudah lepas dari
bantuan orang tuanya, menjadikan anak tidak mempunyai rasa tanggung jawab dan
tidak dapat menghargai makna tanggung jawab dan orang tua tidak mampu untuk
menolak permintaannya, dia akan mengalami kekacauan jiwa ketika menemui kesulitan
atau ketika menghadapi kegagalan, tumbuh dalam dirinya sifat egois dan keinginan
untuk selalu menguasai, tidak mampu beradaptasi sosial, karena dia selalu
menyangka bahwa teman-teman dan kawan-kawannya akan selalu memenuhi
keinginannya dan tunduk di bawah sikap sombongnya, oleh karenanya kita akan
dapati dia selalu sendiri tanpa ada yang mau menemaninya.
*KEMBANGKAN
DIRINYA
Pemahaman
nilai diri yang berkembang dalam diri anak tumbuh karna penghargaan dan
perlakuan yang baik dari keluarga, guru dan orang lain terhadapnya. Bagaimana
caranya mengetahui pemahaman diri yang dimiliki oleh anak, apakah dengan
menanyakan kepadanya secara langsung atau dengan memperhatikan apa yang dia katakan
atau yang dia lakukan ? Kita dapat mengetahuinya melalui beberapa pertanyaan
yang kita ajukan kepadanya,
- Kamu mempunyai cita-cita menjadi apa nanti ?
- Siapakah yang lebih baik, kamu atau si fulan ?
- Sebutkan satu sifat yang ada pada diri kamu ?
- Apakah kamu dapat melakukan hal ini ? (lalu guru, bapak atau ibu menyerahkan suatu pekerjaan untuk dikerjakan oleh anak)
- Apakah kamu merasa bahwa kamu adalah orang yang penting di tengah kawan-kawanmu ?
- Apakah gurumu menyukaimu ? mengapa dia menyukaimu ? atau mengapa dia tidak menyukaimu ?
- Apakah kawan-kawanmu menyukaimu ? ketika bermain apakah mereka mengajakmu untuk bermain bersama mereka ?
- Mengapa kamu masuk sekolah ? kamu mau menjadi apa nanti setelah lulus sekolah ?
- Mengapa kamu tidak mau pergi ke sekolah ?
- Apakah bapak, ibu dan semua saudaramu mencintaimu ? mengapa mereka mencintaimu ?
Alangkah
baiknya jika kita menghindari untuk mengucapkan kata-kata yang buruk ketika
anak melakukan kesalahan, jangan sampai kita mencercanya dan memukulnya, karena
sikap tersebut membunuh nilai dirinya dan merendahkannya, yang benar adalah
kita tunjukan letak kesalahannya, dan mencari jalan yang paling tepat untuk
mengajarkannya, memberikan berbagai contoh yang konkret dan berbagai pengalaman
praktis yang dapat membantu menunjukan sikap yang benar kepada anak.
*AJARKAN
KEPADANYA BAHWA HIDUP INI HANYA SEMENTARA
Manusia
dapat mengembalikan segala sesuatu yang hilang dari dirinya kecuali waktu.
Didunia tidak ada yang namanya waktu kosong, semua waktu mempunyai nilai, dan karena
besarnya tekanan persaingan di dunia ini maka ada yang mengatakan, “Orang yang
selalu ragu-ragu melakukan sesuatu, maka dia akan menjadi santapan makan
siang.”
Bagaimana
cara mengatur waktumu ?
Jika
seseorang berhasil dalam mengatur hari-harinya, maka dia akan berhasil dalam
kehidupannya, pengaturan waktu dapat dilakukan dengan cara :
- catatlah pada malam sebelumnya atau pada pagiharinya urutan pekerjaan yang akan engkau kerjakan pada hari itu, dan simpanlah dalam kantongmu, lalu setiap kali engkau telah melaksanakan suatu pekerjaan, berilah tanda pada urutan pekerjaan tersebut dengan pulpen. (ane : pake smartphone enyak kali ya, hehe)
- Tulislah nama pekerjaan tersebut dengan singkat di kertas sehingga engkau dapat selalu mengingatnya.
- Susunlah setiap jenis pekerjaan dalam bentuk geografis, dalam artian , bahwa setiap kelompok pekerjaan diletakan di suatu tempat atau di beberapa tempat yang berdekatan, sehingga dapat dilaksanakan secara bergantian demi menghemat waktu.
- Jadikan susunan tersebut tidak permanen agar bisa disesuaikan
- Sisihkan waktu diantara program kerjamu untuk hal-hal darurat yang tidak engkau sangka-sangka, seperti datangnya tamu tanpa janji terlebih dahulu, atau anak mu terkena penyakit yang mendadak, atau mobilmu mogok dijalan.
- Mengambil inisiatif untuk mempergunakan celah-celah waktu yang ada seperti saat sedang mengantri bacalah buku atau tulislah pesan, atau menelpon untuk menyelesaikan beberapa persoalan, dan hal-hal sejenisnya.
- Ketika kondisi program kerjamu merupakan hal yang bersifat alternativ, lakukan jenis pekerjaan yang berbeda agar engkau tidak bosan, jadikan sebagian untuk pribadi, untuk keluarga, sisanya untuk sosial dan begitu seterusnya
- Jadikan sebagian program kerjamu sehari-hari sebagai proyek yang besar, seperti proyek pengembangan diri, peningkatan kualitas intelktualmu, berpikir secar tenang, untuk merencanakan proyek masa depanmu.
- Imam al-Ghazali mengatakan beberapa kalimat bijaksana yang telah dilupakan oleh orang banyak, yaitu “Kewajiban itu lebih banyak jumlahnya di banding waktu.” Dan, “Masa tidak akan pernah condong kepada satu arah, dia bisa saja menjadi teman sejati, atau musuh bebuyutan.”
*BERUSAHA
UNTUK SELALU MENINGKATKAN KEMAMPUANNYA
Salah
seorang ibu yang bekerja dibidang pendidikan mengeluh kepadaku bahwa anak perempuannya
tidak mau mengerjakan tugas-tugas sekolahnya dan tidak mau belajar, sebab
ternyata karena sang ibu mengajarkan anaknya untuk tidak mandiri dan selalu
bergantung pada ibunya. Ibunya sealu mengerjakan tugas-tugas sekolahnya,
membuka tas sekolahnya dan menanyakan kepadanya apa yang dia butuhkan dalam
pelajarannya, sikap ibu yang seperti ini menciptakan sifat ketergantungan anak,
dan menjadikan anak tidak mampu memanfaatkan dan mengasah kemampuan yang dia
butuhkan dalam perjalannya, dalam upaya untuk meningkatkan motivasi belajarnya
dan hal-hal lainnya.
Hal
seperti ini juga terjadi pada anak laki-laki, ketika dia ingin membatu bapaknya
membeli berbagai kebutuhan atau membantunya mencuci mobil dan hal-hal lainnya
yang seperti itu, maka bapaknya langsung berkata kepadanya, “ Engkau masih
terlalu kecil untuk mengerjakan
pekerjaan ini.”
Kalau
kita renungi sebab yang mendorong kita untuk berlaku seperti ini, maka bisa
jadi penyebabnya adalah keinginan kita untuk menyelesaikan pekerjaan ini secara
cepat dan sempurna, dan terkadang karena keinginan kita untuk selalu berkorban
dan memberi, ingin selalu memanjakan anak kita, dan kita takut jika karena
membantu kita, mereka malah mendapat bahaya dan celaka, semua hal ini meskipun
kelihatannya kita lakukan demi kebaikan anak, akan tetapi sebenarnya ini adalah
sesuatu yang buruk, sikap kita yang seperti ini akan mematikan jiwa kemerdekaan
dan peningkatan kemampuan anak.
Cara
yang paling baik untuk menyatakan rasa cinta kita kepada anak adalah dengan
menerima dan menghormati keinginan mereka, dan membiarkan mereka melakukan
berbagai tanggung jawab untuk memperbaiki kekurangan mereka. Untuk mencapai
tingkat sempurna dan mahir dalam suatu pekerjaan, dibutuhkan latihan dan
praktik.
*BERIKAN
DIA KESEMPATAN UNTUK MEBANTUMU
Banyak
keluarga yang merasa beban dan tanggung jawab mereka dari hari ke hari
bertambah, yang mendorong mereka mengambil pembantu untuk mengerjakan sebagian
peran dan pekerjaan mereka, karena ibu rumah tangga disibukkan dengan kerja
luar rumah, sibuk mengunjungi kerabat dan tetangganya, atau sibuk berbelanja
dan sebagainya. Kami saksikan pula anak-anak yang hanya diperhatikan dan di
didik oleh para pembantu tanpa adanya didikan dari ibu, terbiasa untuk
mengandalkan dan bergantung kepada orang lain dalam melaksanankan semua
kebutuhan hidupnya. Pada riset lapangan yang dilakukan terhadap para pelajar
SMU di Negara emirat, dilaporkan bahwa pelajar perempuan hanya mendapatkan
pembelajaran beberapa kalimat dan kata-kata dari bahasa asli para pembantu yang
bekerja dirumah mereka, sedangkan memasak, menjahit, dan pekerjaan rumah yang
lainnya sama sekali tidak mereka dapatkan dari pembantu.
Begitu
juga kami dapati bahwa pelajar tidak mau melakukan pekerjaan yang dilakukan
oleh para pembantu, dan memandang orang yang mau melakukan pekerjaan yang biasa
dilakukan oleh pembantu itu dengan pandangan yang rendah dan dipenuhi dengan
kehinaan dan cemoohan.
Seharusnya
tugas yang dilaksanakan oleh para pembantu di dalam rumah tersebut dibatasi,
dan tidak menjadikan anak terbebas dari berbagai tanggung jawab mereka dalam
keluarga, oleh karena itu, kami lihat dari sebagian keluarga mulai mengambil
sikap untuk menyikapi timbulnya kecendrungan yang dapat menghancurkan tatanan
keluarga ini, dengan mengharuskan dan mewajibkan anggota keluarga untuk
melayani diri sendiri dan masyarakatnya, contohnya, salah seorang ibu rumah
tangga yang mengambil inisiatif memberikan libur bagi para pembantu selama
seminggu , dan membagi-bagikan tugas rumah tangga kepada semua anggota keluarga
termasuk anak, dan mereka diberikan tugas yang sesuai dengan umur dan kemampuan
mereka dalam melaksanakan dan mengerjakan tugas tersebut.
*BIARKAN
ANAK BERMAIN
Bagi
seorang anak, bermain merupakan sarana dan aktivitas yang mencerminkan kelakuan
anak, arah hidupnya, kecendrungannya, emosionalnya dan nilai dirinya. Dalam
artian alat permainan yang dipilih anak akan menunjukan cirri-ciri
kepribadiannya secara umum.
Beberapa
manfaat yang dapat dipetik oleh anak melalui aktivitas bermain sebagai berikut
:
- Permainan yang membutuhkan gerakan dan kecepatan, berguna untuk menguatkan otot-otot anak, dan berguna untuk meningkatkan kemampuan jiwa keingintahuan anak , dan kemampuan anak untuk menggambungkan suatu alat, memisah-misahkannya dan menyusunnya kembali.
- Bermain memberikan ruang bagi anak untuk mempelajari banyak hal. Melalui alat bermain yang bermacam-macam, anak mengenali berbagai bentuk, warna dan ukuran, dan mengenali berbagai jenis pakaian, mempelajari kemampuan diri untuk meneliti, kemampuan diri untuk mengumpulkan dan mengklasifikasikan sesuatu. Dengan bermain, anak juga memperoleh kemampuan diri yang sempurna yang tidak dia dapatkan dari sumber yang lain.
- Melalui aktifitas bermain, anak belajar membangun hubungan sosial yang baik dengan anak yang lain, dan dia juga belajar cara saling menolong sesama kawan dan dengan orang yang lebih besar darinya.
- Melalui bermain, anak mencurahkan energinya untuk membangun dan berkreasi. Melalui alat permainannya, dia mencoba menerapkan berbagai ide yang ada di dalam otaknya, dan melalui permainan akting dan lukisan, dia dapat meningkatkan kemampuannya untuk berkreasi.
- Melalui sebuah permainan, anak dapat mengenali dirinya sendiri, dan menemukan batasan bagi kemampuannya yang berbeda dengan kawan-kawannya. Dengan sebuah permainan, dia juga dapat mengenali masalah yang dihadapinya dan cara pemecahannya.
- Sebuah permainan dikategorikan sebagai sebuah metode pembinaan dan pemecahan problem sosial. Dalam melakukan sebuah permainan yang bebas, anak dapatmengungkapkan problemnya dan gangguan psikologi yang dialami. Sebagian hasil riset menunjukan bahwa anak yang datang dari rumah yang memberikan kebebasan bermain bagi anak lebih baik kondisinya, dibandingkan dengan anak yang datang dari rumah yang dipenuhi dengan berbagai kekangan, perintah, dan larangan.
- Dengan bermain, anak terbebas dari kekangan orang tua, otaknya menjadi terbuka, dan imajinasinya melesat jauh. Anak pun terlatih untuk menciptakan sebuah kreativitas.
*TERAPKAN
UNDANG-UNDANG KELUARGA DI DALAM RUMAH ANDA
Agar suatu keluarga berhasil dalam mendidik
anak-anaknya, maka keluarga tersebut membutuhkan adanya kerjasama yang kompak
diantara anggota keluarga demi merealisasikan mimpi dan tujuan mereka, dan ini
tidak akan tercipta kecuali dengan adanya beberapa factor berikut ini.
- Adanya undang-undang keluarga yang membedakan keluarga itu dengan yang lainnya.
- Setiap anggota keluarga mempunyai tanggung jawab dan peran yang jelas
- Keluarga mempunyai tujuan yang ingin dicapai oleh semua anggotanya.
- Semua anggota keluarga mempunyai ikatan yang erat di antara mereka dan mempunyai perasaan bahagia.
- Diantara anggota keluarga terdapat orang-orang yang mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi dan menilai.
- Anggota keluarga mempunyai kemerdekaan diri di tempat yang membutuhkan kemerdekaan, dan saling kerja sama di tempat yang membutuhkan kerja sama diantara mereka.
- Ketika undang-undang keluarga diterapkan, harus ada komunikasi yang terbuka antara orang tua dan anak, sehingga semua anggota keluarga dapat memikul tanggung jawab yang dibebankan kepada mereka, dan saling bekerja sama demi mencapai tujuan yang ingin diraih oleh keluarga.
*DIDIKLAH
ANAK UNTUK MENJADI ORANG YANG MEMPUNYAI CITA-CITA YANG TINGGI
Abdul
Qadir al-Jailani berkata kepada anaknya, “Wahai anakku, jangan engkau pusatkan perhatianmu pada
makanan apa yang akan engkau makan, minuman apa yang akan engkau minum, pakaian
apa yang akan engkau pakai, rumah yang bagaimana yang akan engkau tempati,
kelompok mana yang akan engkau temani, semua ini adalah godaan jiwa dan tabiat
manusia, akan tetapi pikirkan di mana hatimu berada ? Mana cita-citamu yang
paling penting ? Semestinya cita-citamu adalah mencapai apa yang ada di sisi
Tuhanmu Azza Wa Jalla.
Didiklah
anak-anak kita untuk menjadi orang yang mau bekerja keras yang merasa bangga
dengan dirinya sendiri, bukan orang yang merasa besar dengan kemuliaan orang
tuanya. Orang yang mempunyai cita-cita yang tinggi akan bekerja keras,
membangun kemuliaannya sendiri, dan tidak mengandalkan bantuan satu orang pun
anggota keluarga yang ada di sekelilingnya untuk mencapai posisi yang tinggi.
Dia dapat mengukur antara cita-cita yang tinggi dengan kemampuannya dalam
mewujudkan prestasi dan keberhasilan dirinya sendiri, dan dengan kemauannya
yang kuat.”
Seorang
laki-laki berbicara di depan Abdul Malik
bin Marwan tentang suatu permasalahan dengan menyebutkan pendapat semua
mazhab, maka Abdul Malik merasa takjub dengan pembicaraan orang tersebut, dan
dia bertanya kepadanya, “Anak siapa engkau ?” Laki-laki itu menjawab, “Wahai
Amirul Mu’minin, aku bukan anak siapa-siapa, akan tetapi aku adalah diriku
sendiri, yang dengan usahaku sendiri, aku bisa sampai di hadapanmu.” Lalu Abdul
Malik berkata, “Engkau benar.”
*BANTULAH
ANAK UNTUK MEMILIH TEMAN
Berteman
merupakan salah satu faktor penting yang menjadikan anak merasa bahwa dia dapat
menyesuaikan diri dan beradaptasi dengan lingkungannya, karena di dalam
persahabatan terdapat pemenuhan bagi berbagai kebutuhan psikologi dan sosial
anak, yang mendorong dia untuk melakukan berbagai aktivitas dan program.
Berteman juga dapat menampakan kemampuan diri dan potensinya, dan memberikan
berbagai pengalaman dan eksperimen yang bermanfaat bagi dirinya.
Menyiapkan
anak untuk memilih teman yang baik merupakan perkara yang sangat penting. Hal
itu dilakukan dengan memberi nasehat kepada mereka tentang dasar-dasar berteman
dan tujuannya, dan bagaimana cara memilih teman yang baik. Dan lebih bagus lagi
kalau orang tua mengundang teman-teman
anaknya ke rumah, untuk mengetahui arah pemikiran dan tingkah laku mereka, dan
ikut serta dalam aktivitas mereka, yang akan memberikan kegembiraan dan
kebahagiaan mereka, mereka harus di ingatkan bahwa memilih teman harus
berlandaskan keimanan, kebaikan, dan ketakwaan.
*HINDARI
UNTUK MENYALAHKAN DAN MENGKRITIK ANAK
Jika
kita ingin menjadikan sebuah kritik mempunyai pengaruh bagi anak, maka kita
harus menghindari dari timbulnya permusuhan dan perseteruan dengan anak, karena
untuk mencapai tujuan yang kita inginkan dan kebaikan si anak, kita harus
menjaga perasaannya dan harga dirinya, meskipun tindakan yang kita lakukan
benar.
Orang
tua yang selalu melontarkan celaan dan kritik pada anaknya, akan membuat
anaknya tidak mampu untuk menanggung
beban tanggung jawab. Dia pun akan belajar bagaimana cara melontarkan
celaan kepada orang lain, dan menuduh mereka telah lalai dalam menjalankan
tugas, selalu membuat permasalahan dengan orang lain, selalu mencari-cari
titik-titik kelamahan dan kesalahan mereka. Titik perhatiannya selalu terfokus
pada keluhan yang selalu dia lontarkan terhadap kondisi yang ada di
sekelilingnya, karena yang dia pelajari dari orang yang mendidiknya hanyalah
keraguan terhadap kemampuannya dan kemampuan orang lain yang ada di
sekelilingnya. Dia tidak menaruh kepercayaan kepada mereka, perasaanya selalu
saja negativ, cenderung kepada sifat pesimis, rendah diri dan kurang mampu
beradaptasi dengan orang lain.
Anak
yang selalu dikontrol oleh orang tuanya, akan berakhir kepada dua hal yaitu :
anak itu akan menjadi orang yang selalu membangkang atau menjadi orang yang
tertutup dan terisolasi. Kedua sifat ini memberikan hal yang negativ bagi
kehidupannya.
Kata-kata
orang tua yang lembut dan tersusun bagus ketika memberikan arahan kepadanya,
mempunyai pengaruh yang penting bagi anak dalam menjaga harga dirinya dan
reaksi yang ditimbulkannya, yang membuatnya bersikap tenang.
Contoh kata-kata yang salah dan benar
Salah : “Maryam, engkau anak pemalas!”
Benar : “Maryam engkau mempunyai beberapa kelalaian
dalam merawat dirimu.”
Salah : Ahmad engkau orang yang bodoh!”
Benar : “Ahmad, engkau harus memperhatikan
pelajaranmu dan memperbaiki prestasi sekolahmu.”
*BINALAH
MAKSUD DAN TUJUAN HIDUPNYA
Alqarani
menyiratkan (1997) bahwa tujuan hidup manusia terbagi kepada dua bagian.
- Tujuan yang besar, yang menyeluruh dan permanen, atau tujuan yang strategis.
- Tujuan kecil, yang parsial dan temporal, atau tujuan dengan taktik.
Kita
harus memperhatikan tugas yang akan dikerjakan oleh anak, dan kita tekankan
bahwa mottonya adalah: “Aku hidup dengan bahagia dan berprestasi di sekolahku”.
Agar dia dapat mewujudkan keberhasilan dalam tugasnya, maka dia harus melakukan
beberapa tugas yang yang berbeda, seperti berikut.
- Dia harus disukai oleh orang lain.
- Pemikirannya harus selalu positif, tidak negativ dan pesimis
- Mengarahkan tenaganya untuk mengatur waktunya dan belajar
- Melakukan berbagai pekerjaan, dan memberikan bantuan tenaga di dalam rumah
- Melakukan berbagai kegiatan sosial di yayasan-yayasan sosial dan kebudayaan.
- Dia memiliki pengaruh, dan keberadaannya diperhitungkan oleh orang lain.
Dengan
memberikan berbagai tugas dan peran ini kepadanya, maka dia akan mampu berbaur
dengan orang lain, dan menciptakan keseimbangan dalam kehidupannya.
*JADIKAN
ANAK MENJADI SEORANG YANG KOMPETITOR
Setiap
individu didalam masyarakat mempunyai beberapa ciri yang membedakannya dengan individu
yang lain, diantara ciri-ciri tersebut adalah jiwa inisiatif.
Untuk
mendidik murid agar mempunyai jiwa inisiatif, menuntut adanya pembinaan
kepribadian anak yang merdeka, yang memiliki keseimbangan dan kesempurnaan
jasmani, emosi, akal dan sosial, mempunyai kepercayaan diri dan kemampuan untuk
memerdekakan diri, tanpa bergantung dan meminta pertolongan pada orang lain,
kecuali dalam keadaan butuh dan kepepet.
- aku tidak mampu melakukan sesuatu (bahasa anak pasif), marilah kita lihat alternative lain (bahasa anak kompetitor)
- beginilah aku (bahasa anak pasif), aku dapat memilih cara yang berbeda (bahasa anak kompetitor)
- dia membuatku gila (bahasa anak pasif), aku dapat menguasai perasaanku (bahasa anak kompetitor)
- mereka tidak akan mengizinkanku untuk melakukan hal itu (bahasa anak pasif), aku dapat maju dengan cara yang efektif (bahasa anak kompetitor)
- aku terikat untuk melakukan hal itu (bahasa anak pasif), aku akan memilih jawaban yang sesuai (bahasa anak kompetitor)
- aku tidak mampu (bahasa anak pasif), aku dapat memilih (bahasa anak kompetitor)
- aku harus (bahasa anak pasif), aku lebih memilih (bahasa anak kompetitor)
- seandainya (bahasa anak pasif), aku akan (bahasa anak kompetitor)[/spoiler]
*LIMPAHKAN
KEKUASAAN YANG BUKAN OTORITER KEPADA ANAK
Yang
kami maksudkan di sini adalah melimpahkan kekuasaan secara bebas, bukan
melimpahkan kekuasaan yang otoriter, yang mengikat ruang gerak anak, dan tidak
meberikan kesempatan baginya untuk berkembang dan produktif.
Seorang
bapak yang berkata kepada anaknya, “Lakukan ini!”, “jangan lakukan itu !”.
“pergi kesini”, dan menentukan secara detail apa yang harus dilakukan oleh
anaknya, maka orang ini tidak mengetahui
bagaimana cara melimpahkan kekuasaan secara penuh kepada anaknya.
Seorang
bapak yang melimpahkan kekuasaan kepada anaknya dengan cara yang otoriter, maka
tatkala dia mengutus anaknya membeli beberapa keperluan, dia memfokuskan
perhatiannya pada hal-hal yang detail, dimulai dari keluarnya anak dari rumah
sampai dia kembali lagi. Dia mengajarkan anaknya secara mendetail arah jalan
yang harus dia tempuh, sarana transportasi apa yang harus dia naiki, dan
bagaimana cara berinteraksi dengan penjual, dan barang-barang apa saja yang
akan dia beli, sehingga anak tidak diberikan kesempatan untuk mandiri dalam
memilih jalan yang dia tempuh, dan cara yang dia inginkan dalam membeli
berbagai kebutuhan rumah tangganya.
Jika
seorang ibu melimpahkan kekuasaan kepada anak perempuannya untuk membersihkan
rumah, dan berkata kepadanya, “Alangkah indahnya rumah dilihat jika dalam
keadaan bersih, dan sekarang lihatlah kamar ini, dia butuh untuk di bersihkan
dan tertata, dan itulah yang saat ini kami inginkan, kamu bebas untuk memilih
cara yang kamu inginkan. Sekarang terserah kamu bagaimana cara menjadikan rumah
bersih dan tertata, dan kamu bebas untuk memilih cara yang kamu inginkan, akan
tetapi aku akan memberitahukan kamu seandainya aku yang diberikan tugas seperti
ini maka apa yang aku lakukan ? “Lalu si anak bertanya, “Apa yang akan Ibu
lakukan ? “Si ibu menjawab, “Sebelum kamu melakukan pekerjaan ini, aku akan
memberitahukan kamu beberapa hal, karena ketika kamu melakukan pekerjaan ini
aku tidak akan ikut campur karena itu adalah pekerjaanmu, dan aku percaya bahwa
kamu mampu melaksanakan dan mengerjakan pekerjaan ini, dan kamu akan menjadi
tuan bagi dirimu sendiri. “ Maka perkataan ibunya yang seperti ini memberikan
dia kemampuan untuk mengatur dan mengawasi pekerjaannya, dan adanya kepercayaan
kepada anak untuk melakukan pekerjaan ini, maka dia akan mengeluarkan semua
kemampuannya yang terbaik untuk melaksanakan pekerjaan ini.
*PERKUAT
JIWA TANGGUNG JAWAB DALAM DIRINYA
Kenapa
kita melarang mereka untuk mencoba melakukan berbagai tugas yang telah di
program secara bertahap dan sudah di pelajari keefektifannya , yang akan
mengajarkan kepada mereka bagaimana cara melaksanakan tugas yang dibebankan
kepada mereka.
Salah
seorang kenalanku mengatakan kepadaku tentang pengalaman yang dia lihat dengan
mata kepalanya sendiri di tempat kerjanya di Venezuela. Dia berkata, “Ada salah
seorang pengusaha Yahudi yang menjalankan pabrik pakain jadi, kemudian datang
anaknya yang masih muda untuk bekerja dengannya, dan dia duduk di meja kerja
bapaknya, sehingga dia merasa bahwa dia adalah seorang direktur dan mempunyai
posisi yang besar seperti bapaknya. Akan tetapi sang bapak berkata kepada
anaknya. “Aku ingin engkau memulai kerjamu sebagaimana aku dulu memulainya, aku
datang ke negara ini tanpa memiliki apa-apa, maka aku bawa beberapa pakaian dan
aku jual di jalan-jalan dengan berjalan kaki, dan engkau harus memulai
sebagaimana aku memulai, berpegang pada dirimu sendiri dan rasakan penderitaan
yang dulu aku rasakan, dengan begitu engkau akan mempunyai kemampuan untuk
mengatur kerjamu dan berhasil dalam kehidupanmu, sebagaimana yang kamu lihat
aku sekarang. “ Maka anak muda ini melaksanakan nasihat bapaknya, dia bekerja
dengan sunguh-sungguh, dan selalu berusaha untuk bertanggung jawab dan
berdikari, jauh dari sifat foya-foya, atau hidup di bawah tanggungan bapaknya.
Setelah beberapa tahun, dia mampu mendirikan pabrik pakaian jadi dengan
usahanya sendiri, sebagaimana yang dilakukan oleh bapaknya, dan dia mampu
menggeluti bidang ini secara sempurna, sehingga dia mempunyai posisi yang
diperhitungkan di antara para pengusaha yang lainnya.
*SERAHKAN
TANGGUNG JAWAB KEPADANYA
Orang
tua senantiasa berusaha untuk menyerahkan tanggung jawab keapada anaknya, dan
mengawasinya dari jauh. Agar kita dapat menempuh cara ini , maka kita harus
melewati berbagai tahapan berikut.
- melatih anak untuk memecahkan permasalahan yang dia hadapi dengan menentukan permasalahan itu secara jelas, sehingga permasalahan itu menjadi ringan, dan anak dapat menghadapinya tanpa campur tangan orang tua.
- Ketika kita mau membiasakan anak untuk berdikari, maka jauhkan rasa gelisah dan takut kita terhadap anak. Ketika memberikan anak tanggung jawab terhadap pekerjaan yang dia lakukan, hal tersebut akan menambah rasa kepercayaan dirinya dan kemampuannya.
Ketika
kita memberikan tanggung jawab kepada anak, maka dalam proses yang seperti ini
dibutuhkan adanya kemampuan komunikasi dengan anak, agar kita dapat mewujudkan
tujuan yang kita inginkan.
Contoh
kemampuan komunikasi:
- Mengungkapkan perasaan. “Telah berkali-kali aku katakan bahwa hubunganmu dengan saudara-saudaramu itu negativ, dan aku selalu mendorongmu untuk memperlakukan mereka dengan baik, bukan memukul mereka.”
- Memberikan tanggung jawab. “Mulai saat ini, aku menganggap ini adalah tanggung jawabmu.”
- Menanamkan kepercayaan. “Aku mempunyai keyakinan bahwa engkau mempunyai kemampuan untuk memperlakukan saudara-saudaramu dengan rasa hormat, dan memberikan contoh yang benar. “
*ORANG
TUA HARUS MEMPUNYAI KEMAMPUAN BERKOMUNIKASI KETIKA BERBICARA DENGAN MEREKA
Contoh kemampuan berkomunikasi.
- Menggambarkan permasalahan tanpa komentar: “Ibumu telah memberitahukan kepadaku bahwa engkau telah berlaku kasar terhadap saudara-saudaramu.”
- Gambarkan perasaanmu. “Aku merasa jengkel kepadamu terhadap permasalahan ini karena aku berharap engkau berlaku baik terhadap saudara-saudaramu , dan aku akan merasa lebih bahagia lagi jika engkau berhenti memukul mereka.”
- Jelaskan apa yang engkau inginkan darinya untuk dia lakukan : ‘Dengan perlakuanmu yang seperti itu terhadap saudara-saudaramu, maka tidak akan ada satu orang pun di rumah ini yang menghormatimu dan menaruh kepercayaan padamu.”
- Kenali perasaan anakmu. “Aku tahu bahwa engkau tidak mau membuat persoalan di rumah ini.”
- Sebutkan apa yang ingin engkau kembangkan dalam diri anakmu dengan memberikan kesempatan baginya untuk menyelesaikan permasalahan. “Aku ingin kelakuanmu menjadi baik, aku tahu bahwa engkau mempunyai kemampuan untuk menyelesaikan permasalahanmu tanpa adanya campur tangan dariku.”
- Berikan sedikit bantuan kepadanya. “Aku dapat memberikan bantuan kepadamu pada beberapa persoalan yang sulit, yang telah berusaha kau selesaikan, akan tetapi engkau tidak mampu dan gagal.”
- Beri kepercayaan pada anakmu. “Aku mempunyai kepercayaan yang penuh kepadamu bahwa engkau mampu untuk melewati berbagai persoalan.”
- Jelaskan peranmu dalam permasalahan ini. “Aku tidak akan mampu membantumu dalam menyelesaikan permasalahanmu, sehingga engkau harus mampu memikul tanggung jawab dengan baik.”
*HASIL-HASIL
YANG DIPEROLEH KETIKA KITA MENYERAHKAN TANGGUNG JAWAB KEPADA ANAK
Ketika
kita menjalani fase pemberian tanggung
jawab kepada anak, maka kita harus mengetahui beberapa keistimewaan fase ini.
- Memberikan anak rasa kepercayaan kepada dirinya dan pada kemampuannya untuk mengambil keputusan, dan membiasakan dia untuk memikul tanggung jawab.
- Daripada kita bertengkar dengannya, maka lebih baik kita mendorong dia untuk mencari jalan keluar bagi permasalahnnya.
*ANGKAT
DIA KE ARAH YANG TINGGI DAN MULIA
Kebutuhan
terhadap rasa tanggung jawab menjadikan anak mengalahkan keinginan dan
syahwatnya, agar dia dapat naik ke tingkat yang tinggi dan mulia. Juga lahir
dalam dirinya ambisi yang tinggi, yang membuat dia berkomitmen dengan keyakinan
dan nilai-nilai dirinya, memenuhi janjinya, dan membina hubungan social yang
berlandaskan ahlak yang tinggi dan mulia.
*ORANG
YANG PALING BAIK ADALAH HAMBA ALLAH
Dari
Ibnu Umar r.a. berkata, “Ada seorang laki-laki di zaman Rasullulah yang jika
dia melihat sebuah mimpi, maka dia
ceritakan kepada Rasullulah, dan aku berharap melihat mimpi untuk aku ceritakan
kepada Rasullulah. Aku ketika itu merupakan seorang anak muda, dan aku tidur di
masjid pada masa Rasullulah saw. pada suatu malam, aku melihat mimpi di dalam
tidurku, seakan-akan dua orang malaikat membawaku ke neraka, yang berupa lembah
seperti sumur yang dilapisi batu, dan didalamnya aku lihat orang-orang yang aku
kenal, maka setelah melihat mimpi tersebut aku
berucap a’uzubillahi min annaar. Dan aku jumpai malaikat yang lain, dan
dia berkata kepadaku , “Berapa yang engkau urus ?” Maka aku ceritakan mimpiku
itu kepada Hafsah, dan dia menceritakannya kembali kepada Rasulullah, maka
Rasulullah bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah Hamba Allah jika dia melakukan
shalat malam, maka setelah itu dia tidur sedikit saja pada malam hari,” (HR
Bukhari).
Rasulullah
memuji Ibnu Umar dengan perkataannya, “Sebaik-baik manusia adalah hamba Allah,”
dan mengisyaratkan kepadanya hal yang dia lalaikan dengan cara yang mengena
dalam jiwa dengan perkataannya, “Jika dia melakukan shalat malam.”
*BERIKAN
DIA KEBEBASAN UNTUK MEMILIH
Yang
paling penting adalah berikan anak kebebasan dan kepercayaan, dan menghindari
untuk menolongnya ketika muncul berbagai kendala dalam kehidupannya, berikan
kesempatan baginya untuk menghadapi berbagai persoalannya sendiri, dan mencari
cara yang tepat untuk menanganinya. Yang paling baik adalah apabila kita
biarkan dia menyelesaikan apa yang sedang dia lakukan, tanpa ada campur tangan
dari kita, kecuali apabila dia telah berkali-kali mencoba untuk menyelesaikan
persoalannya akan tetapi dia tidak berhasil, maka kita berikan dia kunci jalan
keluar, dan kita berikan bantuan kepadanya berupa isyarat bukan dengan cara yang terang-terangan dan
langsung. Dengan cara yang seperti itu, kita menghindari anak dari
ketergantungan kepada keluarganya, dan sengaja memberikan tanggung jawab
kepadanya untuk berusaha mencari jalan keluar yang tepat bagi persoalannya.
Dengan
memberikan anak kebebasan untuk memilih, menjadikan dia mampu untuk mengambil
keputusan sendiri, meskipun terkadang dia melakukan beberapa kesalahan. Yang
terpenting dia mampu melewati permasalahannya dan dia dapat menyelami dasar
dirinya dalam rangka mencari lebih banyak lagi sumbangsih yang akan dia berikan
dari dalam dirinya. Dengan begitu, lahir dalam dirinya rasa percaya diri dan
perasaan berhasil.
*UTUS
DIA UNTUK MENYELESAIKAN URUSANMU
Anak-anak
para sahabat Rasulullah saw. ikut
menghadiri majelis Rasulullah saw., dan Umar r.a. membawa anaknya ke
majelis Rasulullah, diriwayatkan dari Ibnu Umar r.a. dia berkata Rasulullah
bersabda, “Katakan kepadaku tentang sebuah pohon yang seperti muslim, yang datang
buahnya setiap saat dengan izin Allah swt. Untuk dimakan dan yang tidak ada
daun di bawahnya.” Dan aku tahu yang di maksudkan adalah pohon kurma, akan
tetapi aku tidak mau berbicara, dan disana ada Abu Bakar dan Umar, manakala
mereka berdua tidak berbicara, Rasulullah saw. Berkata “itu adalah pohon
kurma.” Ketika aku keluar dengan bapakku dari majelis tersebut, aku berkata,”Ya
bapak, aku tahu bahwa yang dimaksud Rasulullah adalah pohon kurma.” Bapakku
berkata, “Apa yang menahan engkau untuk mengatakannya, aku lebih senang jika
engkau katakan jawabannya daripada engkau bersikap begini dan begitu.”Dia
berkata,”Yang melarangku adalah aku melihat engkau dan Abu Bakar tidak mau
berbicara, maka aku tidak mau berbicara.”Dan dalam satu riwayat
dikatakan,”Karena aku adalah orang yang paling muda disitu, maka aku diam.”(HR
Bukhari dan Muslim).
Yang
sangat disayangkan, banyak kita dapati para orang tua dan pendidik yang tidak
memberikan kesempatan kepada anaknya untuk duduk dengan para tamu dirumahnya,
atau menjamu mereka dan memberikan salam kepada mereka. Bukanlah sesuatu yang
berlebihan jika kami katakan bahwa ada beberapa orang tua yang melarang
anak-anak remaja mereka untuk bergaul dengan para tamu. Dan duduk dengan
mereka, dengan alasan bahwa mereka tidak suka jika anak-anak mendengarkan
pembicaraan dan permasalahan orang dewasa. Maka bagaimana bisa orang-orang
seperti itu membawa anak-anak mereka ke majelis umum, mengahadiri berbagai
pertemuan, mengikuti berbagai pengajian agama dan seminarpendidikan yang
berguna bagi anak, yang dapat mempertajam otaknya, menjadikannya lebih matang
dan lebih peka dengan berbagai perkara dan persoalan kehidupan.
























0 komentar:
Posting Komentar