on Senin, 10 Juni 2013

AGAN AGAN PENGEN PUNYA ANAK-ANAK YANG HEBAT ?

BACAAN WAJIB BUAT ORTU & CALON ORTU

 (RINGKASAN BUKU 25 KIAT MEMBENTUK ANAK HEBAT KARYA PENULIS AKRAM MISBAH UTSMAN)




Alhamdulillah ane kesampaian ngeringkas buku lagi, ane mau share tentang gimana sih bikin anak-anak kita nantinya, biar menjadi anak hebat yang kita cita-citakan ?




Nah kayanya ada 25 langkah yang mesti Agan-agan lakuin, (ko banyak bener ?, ya iyaaaa laah, masa mau bikin anak hebat usahanya dikit, pengorbanan lah siki, hehehe, jreeeeng (serius).

Selama ane hidup di dunia yang fana ini hehehe (blom serius ternyata), hehehe, ane ngeliat ada anak yang baik, ada juga anak yang bandel gan, walaupun dalam artian bandel bukan kriminal, kan doi masih kecil (blom bisa di sebut kriminal), tapi ngga menutup kemungkinan kalo bandelnya trus menerus di lakuin, di piara, di olah lagi, (berteman sama anak2 sesama bandel pula) ada kemungkinan besar ntar udah gedenya nih anak bakal ngejurus ke criminal. Karna ane ngeliat dari keluarga yang baik2 sampe keluarganya yang ancur berantakan, hasilnya pasti beda gan, nah tugas bapak sama emak nya dah tuh yang ngelurusin pribadi anak anak tadi.

Sebenernya ane ngeliat semua itu 75% kuncinya ada di ortunya gan, sebagai pengemban amanat dari Yang Maha Kuasa, orang tua “bertanggung jawab” untuk membentuk kepribadian anak sejak masa pertumbuhannya, semua pengalaman yang dilalui oleh anak tersebut, dari semenjak perkembangan pertamanya, bakal berpengaruh besar dalam kehidupannya nanti gan.

Kalo agan-agan sebagai ortu atau calon ortu bisa ngejalanin langkah-langkah ini Insya Allah anak agan bisa hebat seperti yang kita2 cita-citakan, dan seperti yang sering kita doa-doakan sehabis kita ibadah (amiin), tanpa banyak cincong, yo langsung aja, cekibrot gan.


* MULAILAH DARI DIRIMU SENDIRI


“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasullullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (Al-Ahzab: 21)
Seorang anak membutuhkan teladan yang baik, dan dia mengambil teladan dari orang tuanya atau dari para guru nya, karena dia mempunyai kecendrungan untuk meniru dan mencontoh, maka dia akan mencontoh dan meniru perilaku orang yang dia sukai, serta berusaha tampil seperti orang yang dia sukai.

Umar Ibnul Khathab r.a sebelum memberikan suatu perintah atau suatu larangan kepada manusia, maka terlebih dahulu dia mengumpulkan keluarganya dan berkata, “Amma ba’du, sesungguhnya aku akan mengajak manusia untuk melakukan ini dan ini, dan aku bersumpah atas nama Allah Yang Mulia bahwa tidak satu orang pun dari kalian yang dilaporkan kepadaku bahwa dia melakukan perbuatan yang telah aku larang manusia untuk mengerjakannya atau dia meninggalkan perbuatan yang aku perintahkan manusia untuk melakukannya, kecuali dia aku kenakan siksa yang amat pedih.”

Jika kitaperhatikan keadaan anak-anak muda zaman sekarang, maka kita saksikan jiwa mereka dipenuhi dengan perasaan putus asa, rasa lemah dan sia-sia. Di sebabkan mereka mengidolakan orang-orang yang sesat dan menyimpang, maka mereka tidak mempunyai jati diri, dan tidak mempunyai jiwa loyalitas terhadap peradaban, nilai-nilai yang mulia dan agama, yang telah mencetak berbagai tokoh yang dipuja-puja dan dia diperhitungkan oleh dunia.



*JANGAN BERLAKU KERAS PADANYA


Terkadang kami jumpai ada sebagian anak yang terlihat lemah atau tidak mampu untuk melaksanakan beberapa pekerjaan yang di bebankan kepadanya, sedangkan para bapak sering mengandalkan pukulan untuk membiasakan anak agar mampu melaksanakan tanggung jawab yang dibebankan kepadanya, bahkan barangkali bukan hanya para bapak yang menggunakan pukulan kepada anaknya, tetapi para ibu juga banyak yang mengandalkan pukulan untuk menumpahkan kemarahan yang menggumpal di dalam dada mereka, dan sekaligus untuk mengeluarkan berbagai beban persoalan yang mereka hadapi.

Barangkali para orang tua tidak menyadari bahwa pukulan adalah perbuatan yang dapat menyebabkan hancurnya kepribadian anak, karena si anak merasa terancam dan ketakutan dengan perlakuan orang tuanya, dalam hal ini akan muncul di dalam diri si anak rasa marah dan kebencian terhadap orang tua, juga timbul keinginan untuk membalas dendam kepada orang tuanya dan rasa permusuhan, atau pengucilan dirinya dari keluarganya dan masyarakat sekelilingnya.

Akhirnya timbul ketidakstabilan pada jiwanya, yang membuat dia merasa tertekan dan ketakutan, atau muncul berbagai permasalahan pada dirinya seperti kleptomania, suka berbohong, atau kencing yang tidak disengaja, penakut, selalu ragu-ragu (tidak mempunyai kemampuan untuk menentukan keputusan), minder, terkucil (tidak mempunyai kemampuan untuk membina hubungan dengan orang lain) dan berbagai permasalahan kejiwaan yang lainnya.

Penerapan landasan pendidikan yang berdasarkan metode memberikan ganjaran (hadiah) dan hukuman ini, dapat membentuk tingkah laku yang baik bagi anak, menumbuhkan nilai positif dalam dirinya, menjadikan dia tidak mudah menyerah, dan memotivasi dia untuk bersungguh-sungguh dan menaruh perhatian pada potensi dan kemampuan dirinya.



*BERIKAN DIA KEPERCAYAAN DIRI


Berkaitan dengan masalah ini, Dr. Zainab Ridhwan, Profesor Dirasah Keislaman di Universitas Kairo mengatakan, “Sifat malu mempunyai pengaruh yang besar pada kepribadian anak, menjadikan anak terkucil, takut berhadapan dengan orang lain, dan tidak dapat bergaul dengan baik, serta tidak dapat meninggalkan kesan yang bagus kepada orang lain, maka ketika anak ini menjadi dewasa, dia akan kehilangan berbagai haknya kepada orang lain.
Dan untuk mengobati sifat malu pada anak adalah dengan membiasakan anak untuk memiliki sifat pemberani dan maju memperkenalkan dirinya, oleh karena itu, orang-orang muslim zaman dahulu mengajarkan anak-anak mereka berenang, memanah, dan menunggang kuda, karena semua kegiatan tersebut dapat membentuk jiwa anak untuk mampu membuktikan kejantanan dan keberaniannya “.



*JANGAN JADIKAN DIA SEBAGAI EKORMU


Jika engkau katakan kepada salah satu orang tua bahwa anakmu membutuhkan bantuanmu, barngkali orang tersebut akan merasa heran dan aneh, karena bantuan orang tua terhadap anak adalah sesuatu yang alami, akan tetapi jika engkau berusaha menanyakan kepada orang tua tersebut tentang bentuk bantuan tersebut serta metode yang harus digunakan dalam memberikan bantuan tersebut, maka dia akan terdiam dan tidak dapat menjawab pertanyaanmu.

Karena yang dia tahu adalah, dia selalu memberikan bantuan kepada anaknya dalam memenuhi semua kebutuhan makanan, minuman dan pakaiannya, belum lagi berbagai kebutuhan mainan dan hiburan yang diinginkan sang anak dan semua jenis kebutuhan ini di mata orang tua adalah bantuan abadi yang tidak akan terhenti sepanjang umur anak.

Begitulah cara manusia mendidik anak, dan mereka lupa untuk memberikan hak anak yang paling mendasar, yaitu hak kemandirian.

Anak-anak tidak menyukai metode dikte dan nasihat secara langsung, karena cara tersebut mereka anggap sebagai suatu usaha untuk mematikan keinginan mereka, serta campur tangan orang lain terhadap kehidupan pribadi mereka. Rasa kasih saying, keamanan dan ketenangan yang diberikan oleh orang tua, menimbulkan rasa tentram dalam jiwa anak dan akan membuat dia mampu mengungkapkan kepada keluarganya apa yang dia rasakan dalam dirinya. Manakala dia melihat bahwa keluarganya selalu siap untuk mendengarkan berbagai keluhannya, maka dia termotivasi untuk mendiskusikan kepada mereka berbagai persoalan yang dia hadapi.

Anak-anak kita hidup dan terdidik di zaman yang berbeda dari zaman kita, maka kondisi yang mereka hadapi berbeda dari kondisi kita dahulu, dan dunia yang mereka tempati berbeda dari dunia kita dulu. Misalnya kita ceritakan kepada mereka bahwa dulu untuk mencapai sekolah kita harus berjalan kaki berjam-jam lamanya, atau bagaimana kita harus bekerja keras demi untuk mendapatkan sesendok makan. Hal-hal yang seperti ini tidak akan mendapatkan tempat dan perhatian dari anak-anak kita, jika mereka tidak siap mendengarkan nasihat kita.




*JAGALAH KEMERDEKAAN ANAK


Adas berkata (1995), “Pada suatu hari aku duduk di sebuah restoran, dan di sampingku duduk sepasang suami istri dengan anak mereka yang mencapai umur lima tahun, manakala pelayan menyerahkan minuman kepada mereka, anak kecil tersebut mengulurkan tangannya untuk mengambil gelas minuman tersebut, maka kedua orang tuanya saling berlomba mengajarkan dan memberikan aturan kepada anaknya cara mengambil gelas agar anak itu terlihat santun di hadapan manusia, dan untuk menghindari agar jangan sampai minuman itu tumpah ke bajunya, seakan-akan kedua orang tuanya mewajibkan anaknya untuk tidak melakukan sesuatu apapun sebelum mendapatkan berbagai petunjuk dari orang tuanya. Si anak kecil itu menjadi bingung dan tidak tahu lagi apa yang mesti di perbuat. Akhirnya ia menolak untuk memakan apa saja  yang disodorkan kepadanya dan dia bersikeras atas sikapnya itu, maka kedua orang tuanya saling melemparkan pandangan menyalahkan antara satu dengan yang lain.”
Anak kita merasa bahagia jika dia berhasil melaksanakan suatu pekerjaan betapapun kecilnya pekerjaan tersebut, akan tetapi, kita selalu menganggap anak kita masih kecil dan dia membutuhkan bantuan kita tanpa kita biasakan untuk memikul tanggung jawab dan menjalankannya dalam kehidupannya sehari-hari.

Sikap keras kepada anak timbul manakala antara keinginan anak untuk memerdekakan kepribadiannya dan menunjukan kepada orang tuanya bahwa dia mempunyai keberadaan sendiri yang harus di hormati, dan keinginan ibu yang tidak mau mengakui kemerdekaan pribadi anaknya dan memarjinalkan peran anaknya dan mengabaikan keberadaannya, saling bertabrakan.



*JANGAN TERLALU BERLEBIHAN DALAM MELINDUNGINYA


Berbagai reset yang dilakukan mengatakan bahwa sikap mau terima beres yang ada pada diri anak berkaitan erat dengan sikap para ibu yang cenderung berlebih-lebihan dalam melindungi anaknya. Sikap yang sikap berlebihan dalam memanjakan anak dapat mengakibatkan, melemahnya sisi kemampuan anak untuk mengemban tanggung jawab, karena semua keinginannya selalu terpenuhi, menjadikan anak memiliki kontrol terhadap orang tua, tercipta rasa sombong dan besar kepala dalam diri anak, dan dia selalu mengulangi kata-kata,”Ayahku tidak akan pernah menolak permintaanku,”atau “Ibuku tidak akan mampu mengatakan tidak kepadaku.”, timbulnya sikap perlawanan anak terhadap otoritas orang tuanya, tidak menaruh hormat terhadap orang tuanya, atau tidak mau melaksanankan peraturan yang diterapkan orang tuanya, menjadikan anak tidak mampu berdikari dan tidak mampu melakukan berbagai aktifitas kecuali bila ada orang lain yang membantunya (terhambatnya kematangan sosial dan emosi anak) menjadikan anak selalu meminta perlindungan dan pertolongan secara berkesinambungan dan tidak mudah lepas dari bantuan orang tuanya, menjadikan anak tidak mempunyai rasa tanggung jawab dan tidak dapat menghargai makna tanggung jawab dan orang tua tidak mampu untuk menolak permintaannya, dia akan mengalami kekacauan jiwa ketika menemui kesulitan atau ketika menghadapi kegagalan, tumbuh dalam dirinya sifat egois dan keinginan untuk selalu menguasai, tidak mampu beradaptasi sosial, karena dia selalu menyangka bahwa teman-teman dan kawan-kawannya akan selalu memenuhi keinginannya dan tunduk di bawah sikap sombongnya, oleh karenanya kita akan dapati dia selalu sendiri tanpa ada yang mau menemaninya. 



*KEMBANGKAN DIRINYA


Pemahaman nilai diri yang berkembang dalam diri anak tumbuh karna penghargaan dan perlakuan yang baik dari keluarga, guru dan orang lain terhadapnya. Bagaimana caranya mengetahui pemahaman diri yang dimiliki oleh anak, apakah dengan menanyakan kepadanya secara langsung atau dengan memperhatikan apa yang dia katakan atau yang dia lakukan ? Kita dapat mengetahuinya melalui beberapa pertanyaan yang kita ajukan kepadanya,

  1. Kamu mempunyai cita-cita menjadi apa nanti ?
  2. Siapakah yang lebih baik, kamu atau si fulan ?
  3. Sebutkan satu sifat yang ada pada diri kamu ?
  4. Apakah kamu dapat melakukan hal ini ? (lalu guru, bapak atau ibu menyerahkan suatu pekerjaan untuk dikerjakan oleh anak)
  5. Apakah kamu merasa bahwa kamu adalah orang yang penting di tengah kawan-kawanmu ?
  6. Apakah gurumu menyukaimu ? mengapa dia menyukaimu ? atau mengapa dia tidak menyukaimu ?
  7. Apakah kawan-kawanmu menyukaimu ? ketika bermain apakah mereka mengajakmu untuk bermain bersama mereka ?
  8. Mengapa kamu masuk sekolah ? kamu mau menjadi apa nanti setelah lulus sekolah ?
  9. Mengapa kamu tidak mau pergi ke sekolah ?
  10. Apakah bapak, ibu dan semua saudaramu mencintaimu ? mengapa mereka mencintaimu ?

Alangkah baiknya jika kita menghindari untuk mengucapkan kata-kata yang buruk ketika anak melakukan kesalahan, jangan sampai kita mencercanya dan memukulnya, karena sikap tersebut membunuh nilai dirinya dan merendahkannya, yang benar adalah kita tunjukan letak kesalahannya, dan mencari jalan yang paling tepat untuk mengajarkannya, memberikan berbagai contoh yang konkret dan berbagai pengalaman praktis yang dapat membantu menunjukan sikap yang benar kepada anak.



*AJARKAN KEPADANYA BAHWA HIDUP INI HANYA SEMENTARA


Manusia dapat mengembalikan segala sesuatu yang hilang dari dirinya kecuali waktu. Didunia tidak ada yang namanya waktu kosong, semua waktu mempunyai nilai, dan karena besarnya tekanan persaingan di dunia ini maka ada yang mengatakan, “Orang yang selalu ragu-ragu melakukan sesuatu, maka dia akan menjadi santapan makan siang.”
Bagaimana cara mengatur waktumu ?
Jika seseorang berhasil dalam mengatur hari-harinya, maka dia akan berhasil dalam kehidupannya, pengaturan waktu dapat dilakukan dengan cara :

  1. catatlah pada malam sebelumnya atau pada pagiharinya urutan pekerjaan yang akan engkau kerjakan pada hari itu, dan simpanlah dalam kantongmu, lalu setiap kali engkau telah melaksanakan suatu pekerjaan, berilah tanda pada urutan pekerjaan tersebut dengan pulpen. (ane : pake smartphone enyak kali ya, hehe)
  2. Tulislah nama pekerjaan tersebut dengan singkat di kertas sehingga engkau dapat selalu mengingatnya.
  3. Susunlah setiap jenis pekerjaan dalam bentuk geografis, dalam artian , bahwa setiap kelompok pekerjaan diletakan di suatu tempat atau di beberapa tempat yang berdekatan, sehingga dapat dilaksanakan secara bergantian demi menghemat waktu.
  4. Jadikan susunan tersebut tidak permanen agar bisa disesuaikan
  5. Sisihkan waktu diantara program kerjamu untuk hal-hal darurat yang tidak engkau sangka-sangka, seperti datangnya tamu tanpa janji terlebih dahulu, atau anak mu terkena penyakit yang mendadak, atau mobilmu mogok dijalan.
  6. Mengambil inisiatif untuk mempergunakan celah-celah waktu yang ada seperti saat sedang mengantri bacalah buku atau tulislah pesan, atau menelpon untuk menyelesaikan beberapa persoalan, dan hal-hal sejenisnya.
  7. Ketika kondisi program kerjamu merupakan hal yang bersifat alternativ, lakukan jenis pekerjaan yang berbeda agar engkau tidak bosan, jadikan sebagian untuk pribadi, untuk keluarga, sisanya untuk sosial dan begitu seterusnya
  8. Jadikan sebagian program kerjamu sehari-hari sebagai proyek yang besar, seperti proyek pengembangan diri, peningkatan kualitas intelktualmu, berpikir secar tenang, untuk merencanakan proyek masa depanmu.
  9. Imam al-Ghazali mengatakan beberapa kalimat bijaksana yang telah dilupakan oleh orang banyak, yaitu “Kewajiban itu lebih banyak jumlahnya di banding waktu.” Dan, “Masa tidak akan pernah condong kepada satu arah, dia bisa saja menjadi teman sejati, atau musuh bebuyutan.”




*BERUSAHA UNTUK SELALU MENINGKATKAN KEMAMPUANNYA


Salah seorang ibu yang bekerja dibidang pendidikan mengeluh kepadaku bahwa anak perempuannya tidak mau mengerjakan tugas-tugas sekolahnya dan tidak mau belajar, sebab ternyata karena sang ibu mengajarkan anaknya untuk tidak mandiri dan selalu bergantung pada ibunya. Ibunya sealu mengerjakan tugas-tugas sekolahnya, membuka tas sekolahnya dan menanyakan kepadanya apa yang dia butuhkan dalam pelajarannya, sikap ibu yang seperti ini menciptakan sifat ketergantungan anak, dan menjadikan anak tidak mampu memanfaatkan dan mengasah kemampuan yang dia butuhkan dalam perjalannya, dalam upaya untuk meningkatkan motivasi belajarnya dan hal-hal lainnya.

Hal seperti ini juga terjadi pada anak laki-laki, ketika dia ingin membatu bapaknya membeli berbagai kebutuhan atau membantunya mencuci mobil dan hal-hal lainnya yang seperti itu, maka bapaknya langsung berkata kepadanya, “ Engkau masih terlalu kecil untuk mengerjakan  pekerjaan ini.”

Kalau kita renungi sebab yang mendorong kita untuk berlaku seperti ini, maka bisa jadi penyebabnya adalah keinginan kita untuk menyelesaikan pekerjaan ini secara cepat dan sempurna, dan terkadang karena keinginan kita untuk selalu berkorban dan memberi, ingin selalu memanjakan anak kita, dan kita takut jika karena membantu kita, mereka malah mendapat bahaya dan celaka, semua hal ini meskipun kelihatannya kita lakukan demi kebaikan anak, akan tetapi sebenarnya ini adalah sesuatu yang buruk, sikap kita yang seperti ini akan mematikan jiwa kemerdekaan dan peningkatan kemampuan anak.

Cara yang paling baik untuk menyatakan rasa cinta kita kepada anak adalah dengan menerima dan menghormati keinginan mereka, dan membiarkan mereka melakukan berbagai tanggung jawab untuk memperbaiki kekurangan mereka. Untuk mencapai tingkat sempurna dan mahir dalam suatu pekerjaan, dibutuhkan latihan dan praktik.



*BERIKAN DIA KESEMPATAN UNTUK MEBANTUMU


Banyak keluarga yang merasa beban dan tanggung jawab mereka dari hari ke hari bertambah, yang mendorong mereka mengambil pembantu untuk mengerjakan sebagian peran dan pekerjaan mereka, karena ibu rumah tangga disibukkan dengan kerja luar rumah, sibuk mengunjungi kerabat dan tetangganya, atau sibuk berbelanja dan sebagainya. Kami saksikan pula anak-anak yang hanya diperhatikan dan di didik oleh para pembantu tanpa adanya didikan dari ibu, terbiasa untuk mengandalkan dan bergantung kepada orang lain dalam melaksanankan semua kebutuhan hidupnya. Pada riset lapangan yang dilakukan terhadap para pelajar SMU di Negara emirat, dilaporkan bahwa pelajar perempuan hanya mendapatkan pembelajaran beberapa kalimat dan kata-kata dari bahasa asli para pembantu yang bekerja dirumah mereka, sedangkan memasak, menjahit, dan pekerjaan rumah yang lainnya sama sekali tidak mereka dapatkan dari pembantu.
Begitu juga kami dapati bahwa pelajar tidak mau melakukan pekerjaan yang dilakukan oleh para pembantu, dan memandang orang yang mau melakukan pekerjaan yang biasa dilakukan oleh pembantu itu dengan pandangan yang rendah dan dipenuhi dengan kehinaan dan cemoohan.

Seharusnya tugas yang dilaksanakan oleh para pembantu di dalam rumah tersebut dibatasi, dan tidak menjadikan anak terbebas dari berbagai tanggung jawab mereka dalam keluarga, oleh karena itu, kami lihat dari sebagian keluarga mulai mengambil sikap untuk menyikapi timbulnya kecendrungan yang dapat menghancurkan tatanan keluarga ini, dengan mengharuskan dan mewajibkan anggota keluarga untuk melayani diri sendiri dan masyarakatnya, contohnya, salah seorang ibu rumah tangga yang mengambil inisiatif memberikan libur bagi para pembantu selama seminggu , dan membagi-bagikan tugas rumah tangga kepada semua anggota keluarga termasuk anak, dan mereka diberikan tugas yang sesuai dengan umur dan kemampuan mereka dalam melaksanakan dan mengerjakan tugas tersebut.



*BIARKAN ANAK BERMAIN



Bagi seorang anak, bermain merupakan sarana dan aktivitas yang mencerminkan kelakuan anak, arah hidupnya, kecendrungannya, emosionalnya dan nilai dirinya. Dalam artian alat permainan yang dipilih anak akan menunjukan cirri-ciri kepribadiannya secara umum.
Beberapa manfaat yang dapat dipetik oleh anak melalui aktivitas bermain sebagai berikut :

  1. Permainan yang membutuhkan gerakan dan kecepatan, berguna untuk menguatkan otot-otot anak, dan berguna untuk meningkatkan kemampuan jiwa keingintahuan anak , dan kemampuan anak untuk menggambungkan suatu alat, memisah-misahkannya dan menyusunnya kembali.
  2. Bermain memberikan ruang bagi anak untuk mempelajari banyak hal. Melalui alat bermain yang bermacam-macam, anak mengenali berbagai bentuk, warna dan ukuran, dan mengenali berbagai jenis pakaian, mempelajari kemampuan diri untuk meneliti, kemampuan diri untuk mengumpulkan dan mengklasifikasikan sesuatu. Dengan bermain, anak juga memperoleh kemampuan diri yang sempurna yang tidak dia dapatkan dari sumber yang lain.
  3. Melalui aktifitas bermain, anak belajar membangun hubungan sosial yang baik dengan anak yang lain, dan dia juga belajar cara saling menolong sesama kawan dan dengan orang yang lebih besar darinya.
  4. Melalui bermain, anak mencurahkan energinya untuk membangun dan berkreasi. Melalui alat permainannya, dia mencoba menerapkan berbagai ide yang ada di dalam otaknya, dan melalui permainan akting dan lukisan, dia dapat meningkatkan kemampuannya untuk berkreasi.
  5. Melalui sebuah permainan, anak dapat mengenali dirinya sendiri, dan menemukan batasan bagi kemampuannya yang berbeda dengan kawan-kawannya. Dengan sebuah permainan, dia juga dapat mengenali masalah yang dihadapinya dan cara pemecahannya.
  6. Sebuah permainan dikategorikan sebagai sebuah metode pembinaan dan pemecahan  problem sosial. Dalam melakukan sebuah permainan yang bebas, anak dapatmengungkapkan problemnya dan gangguan psikologi yang dialami. Sebagian hasil riset menunjukan bahwa anak yang datang dari rumah yang memberikan kebebasan bermain bagi anak lebih baik kondisinya, dibandingkan dengan anak yang datang dari rumah yang dipenuhi dengan berbagai kekangan, perintah, dan larangan.
  7. Dengan bermain, anak terbebas dari kekangan orang tua, otaknya menjadi terbuka, dan imajinasinya melesat jauh. Anak pun terlatih untuk menciptakan sebuah kreativitas.




*TERAPKAN UNDANG-UNDANG KELUARGA DI DALAM RUMAH ANDA


Agar suatu keluarga berhasil dalam mendidik anak-anaknya, maka keluarga tersebut membutuhkan adanya kerjasama yang kompak diantara anggota keluarga demi merealisasikan mimpi dan tujuan mereka, dan ini tidak akan tercipta kecuali dengan adanya beberapa factor berikut ini.
  1. Adanya undang-undang keluarga yang membedakan keluarga itu dengan yang lainnya.
  2. Setiap anggota keluarga mempunyai tanggung jawab dan peran yang jelas
  3. Keluarga mempunyai tujuan yang ingin dicapai oleh semua anggotanya.
  4. Semua anggota keluarga mempunyai ikatan yang erat di antara mereka dan mempunyai perasaan bahagia.
  5. Diantara anggota keluarga terdapat orang-orang yang mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi dan menilai.
  6. Anggota keluarga mempunyai kemerdekaan diri di tempat yang membutuhkan kemerdekaan, dan saling kerja sama di tempat yang membutuhkan kerja sama diantara mereka.
  7. Ketika undang-undang keluarga diterapkan, harus ada komunikasi yang terbuka antara orang tua dan anak, sehingga semua anggota keluarga dapat memikul tanggung jawab yang dibebankan kepada mereka, dan saling bekerja sama demi mencapai tujuan yang ingin diraih oleh keluarga.




*DIDIKLAH ANAK UNTUK MENJADI ORANG YANG MEMPUNYAI CITA-CITA YANG TINGGI


Abdul Qadir al-Jailani berkata kepada anaknya, “Wahai anakku,  jangan engkau pusatkan perhatianmu pada makanan apa yang akan engkau makan, minuman apa yang akan engkau minum, pakaian apa yang akan engkau pakai, rumah yang bagaimana yang akan engkau tempati, kelompok mana yang akan engkau temani, semua ini adalah godaan jiwa dan tabiat manusia, akan tetapi pikirkan di mana hatimu berada ? Mana cita-citamu yang paling penting ? Semestinya cita-citamu adalah mencapai apa yang ada di sisi Tuhanmu Azza Wa Jalla.

Didiklah anak-anak kita untuk menjadi orang yang mau bekerja keras yang merasa bangga dengan dirinya sendiri, bukan orang yang merasa besar dengan kemuliaan orang tuanya. Orang yang mempunyai cita-cita yang tinggi akan bekerja keras, membangun kemuliaannya sendiri, dan tidak mengandalkan bantuan satu orang pun anggota keluarga yang ada di sekelilingnya untuk mencapai posisi yang tinggi. Dia dapat mengukur antara cita-cita yang tinggi dengan kemampuannya dalam mewujudkan prestasi dan keberhasilan dirinya sendiri, dan dengan kemauannya yang kuat.”

Seorang laki-laki berbicara di depan Abdul Malik  bin Marwan tentang suatu permasalahan dengan menyebutkan pendapat semua mazhab, maka Abdul Malik merasa takjub dengan pembicaraan orang tersebut, dan dia bertanya kepadanya, “Anak siapa engkau ?” Laki-laki itu menjawab, “Wahai Amirul Mu’minin, aku bukan anak siapa-siapa, akan tetapi aku adalah diriku sendiri, yang dengan usahaku sendiri, aku bisa sampai di hadapanmu.” Lalu Abdul Malik berkata, “Engkau benar.”




*BANTULAH ANAK UNTUK MEMILIH TEMAN


Berteman merupakan salah satu faktor penting yang menjadikan anak merasa bahwa dia dapat menyesuaikan diri dan beradaptasi dengan lingkungannya, karena di dalam persahabatan terdapat pemenuhan bagi berbagai kebutuhan psikologi dan sosial anak, yang mendorong dia untuk melakukan berbagai aktivitas dan program. Berteman juga dapat menampakan kemampuan diri dan potensinya, dan memberikan berbagai pengalaman dan eksperimen yang bermanfaat bagi dirinya.
Menyiapkan anak untuk memilih teman yang baik merupakan perkara yang sangat penting. Hal itu dilakukan dengan memberi nasehat kepada mereka tentang dasar-dasar berteman dan tujuannya, dan bagaimana cara memilih teman yang baik. Dan lebih bagus lagi kalau orang tua mengundang  teman-teman anaknya ke rumah, untuk mengetahui arah pemikiran dan tingkah laku mereka, dan ikut serta dalam aktivitas mereka, yang akan memberikan kegembiraan dan kebahagiaan mereka, mereka harus di ingatkan bahwa memilih teman harus berlandaskan keimanan, kebaikan, dan ketakwaan.




*HINDARI UNTUK MENYALAHKAN DAN MENGKRITIK ANAK


Jika kita ingin menjadikan sebuah kritik mempunyai pengaruh bagi anak, maka kita harus menghindari dari timbulnya permusuhan dan perseteruan dengan anak, karena untuk mencapai tujuan yang kita inginkan dan kebaikan si anak, kita harus menjaga perasaannya dan harga dirinya, meskipun tindakan yang kita lakukan benar.

Orang tua yang selalu melontarkan celaan dan kritik pada anaknya, akan membuat anaknya tidak mampu untuk menanggung  beban tanggung jawab. Dia pun akan belajar bagaimana cara melontarkan celaan kepada orang lain, dan menuduh mereka telah lalai dalam menjalankan tugas, selalu membuat permasalahan dengan orang lain, selalu mencari-cari titik-titik kelamahan dan kesalahan mereka. Titik perhatiannya selalu terfokus pada keluhan yang selalu dia lontarkan terhadap kondisi yang ada di sekelilingnya, karena yang dia pelajari dari orang yang mendidiknya hanyalah keraguan terhadap kemampuannya dan kemampuan orang lain yang ada di sekelilingnya. Dia tidak menaruh kepercayaan kepada mereka, perasaanya selalu saja negativ, cenderung kepada sifat pesimis, rendah diri dan kurang mampu beradaptasi dengan orang lain.

Anak yang selalu dikontrol oleh orang tuanya, akan berakhir kepada dua hal yaitu : anak itu akan menjadi orang yang selalu membangkang atau menjadi orang yang tertutup dan terisolasi. Kedua sifat ini memberikan hal yang negativ bagi kehidupannya.

Kata-kata orang tua yang lembut dan tersusun bagus ketika memberikan arahan kepadanya, mempunyai pengaruh yang penting bagi anak dalam menjaga harga dirinya dan reaksi yang ditimbulkannya, yang membuatnya bersikap tenang.
Contoh  kata-kata yang salah dan benar

Salah  : “Maryam, engkau anak pemalas!”
Benar : “Maryam engkau mempunyai beberapa kelalaian dalam merawat dirimu.”
Salah  : Ahmad engkau orang yang bodoh!”
Benar : “Ahmad, engkau harus memperhatikan pelajaranmu dan memperbaiki prestasi sekolahmu.” 



*BINALAH MAKSUD DAN TUJUAN HIDUPNYA


Alqarani menyiratkan (1997) bahwa tujuan hidup manusia terbagi kepada dua bagian.
  1. Tujuan yang besar, yang menyeluruh dan permanen, atau tujuan yang strategis.
  2. Tujuan kecil, yang parsial dan temporal, atau tujuan dengan taktik.

Kita harus memperhatikan tugas yang akan dikerjakan oleh anak, dan kita tekankan bahwa mottonya adalah: “Aku hidup dengan bahagia dan berprestasi di sekolahku”. Agar dia dapat mewujudkan keberhasilan dalam tugasnya, maka dia harus melakukan beberapa tugas yang yang berbeda, seperti berikut.

  • Dia harus disukai oleh orang lain.
  • Pemikirannya harus selalu positif, tidak negativ dan pesimis
  • Mengarahkan tenaganya untuk mengatur waktunya dan belajar
  • Melakukan berbagai pekerjaan, dan memberikan bantuan tenaga di dalam rumah
  • Melakukan berbagai kegiatan sosial di yayasan-yayasan sosial dan kebudayaan.
  • Dia memiliki pengaruh, dan keberadaannya diperhitungkan oleh orang lain.

Dengan memberikan berbagai tugas dan peran ini kepadanya, maka dia akan mampu berbaur dengan orang lain, dan menciptakan keseimbangan dalam kehidupannya.




*JADIKAN ANAK MENJADI SEORANG YANG KOMPETITOR



Setiap individu didalam masyarakat mempunyai beberapa ciri yang membedakannya dengan individu yang lain, diantara ciri-ciri tersebut adalah jiwa inisiatif.
Untuk mendidik murid agar mempunyai jiwa inisiatif, menuntut adanya pembinaan kepribadian anak yang merdeka, yang memiliki keseimbangan dan kesempurnaan jasmani, emosi, akal dan sosial, mempunyai kepercayaan diri dan kemampuan untuk memerdekakan diri, tanpa bergantung dan meminta pertolongan pada orang lain, kecuali dalam keadaan butuh dan kepepet.

  1. aku tidak mampu melakukan sesuatu (bahasa anak pasif), marilah kita lihat alternative lain (bahasa anak kompetitor)
  2. beginilah aku (bahasa anak pasif), aku dapat memilih cara yang berbeda (bahasa anak kompetitor)
  3. dia membuatku gila (bahasa anak pasif), aku dapat menguasai perasaanku  (bahasa anak kompetitor)
  4. mereka tidak akan mengizinkanku untuk melakukan hal itu (bahasa anak pasif), aku dapat maju dengan cara yang efektif (bahasa anak kompetitor)
  5. aku terikat untuk melakukan hal itu (bahasa anak pasif), aku akan memilih jawaban yang sesuai (bahasa anak kompetitor)
  6. aku tidak mampu (bahasa anak pasif), aku dapat memilih (bahasa anak kompetitor)
  7. aku harus (bahasa anak pasif), aku lebih memilih (bahasa anak kompetitor)
  8. seandainya (bahasa anak pasif), aku akan (bahasa anak kompetitor)[/spoiler]




*LIMPAHKAN KEKUASAAN YANG BUKAN OTORITER KEPADA ANAK


Yang kami maksudkan di sini adalah melimpahkan kekuasaan secara bebas, bukan melimpahkan kekuasaan yang otoriter, yang mengikat ruang gerak anak, dan tidak meberikan kesempatan baginya untuk berkembang dan produktif.

Seorang bapak yang berkata kepada anaknya, “Lakukan ini!”, “jangan lakukan itu !”. “pergi kesini”, dan menentukan secara detail apa yang harus dilakukan oleh anaknya, maka orang ini tidak mengetahui  bagaimana cara melimpahkan kekuasaan secara penuh kepada anaknya.
Seorang bapak yang melimpahkan kekuasaan kepada anaknya dengan cara yang otoriter, maka tatkala dia mengutus anaknya membeli beberapa keperluan, dia memfokuskan perhatiannya pada hal-hal yang detail, dimulai dari keluarnya anak dari rumah sampai dia kembali lagi. Dia mengajarkan anaknya secara mendetail arah jalan yang harus dia tempuh, sarana transportasi apa yang harus dia naiki, dan bagaimana cara berinteraksi dengan penjual, dan barang-barang apa saja yang akan dia beli, sehingga anak tidak diberikan kesempatan untuk mandiri dalam memilih jalan yang dia tempuh, dan cara yang dia inginkan dalam membeli berbagai kebutuhan rumah tangganya.

Jika seorang ibu melimpahkan kekuasaan kepada anak perempuannya untuk membersihkan rumah, dan berkata kepadanya, “Alangkah indahnya rumah dilihat jika dalam keadaan bersih, dan sekarang lihatlah kamar ini, dia butuh untuk di bersihkan dan tertata, dan itulah yang saat ini kami inginkan, kamu bebas untuk memilih cara yang kamu inginkan. Sekarang terserah kamu bagaimana cara menjadikan rumah bersih dan tertata, dan kamu bebas untuk memilih cara yang kamu inginkan, akan tetapi aku akan memberitahukan kamu seandainya aku yang diberikan tugas seperti ini maka apa yang aku lakukan ? “Lalu si anak bertanya, “Apa yang akan Ibu lakukan ? “Si ibu menjawab, “Sebelum kamu melakukan pekerjaan ini, aku akan memberitahukan kamu beberapa hal, karena ketika kamu melakukan pekerjaan ini aku tidak akan ikut campur karena itu adalah pekerjaanmu, dan aku percaya bahwa kamu mampu melaksanakan dan mengerjakan pekerjaan ini, dan kamu akan menjadi tuan bagi dirimu sendiri. “ Maka perkataan ibunya yang seperti ini memberikan dia kemampuan untuk mengatur dan mengawasi pekerjaannya, dan adanya kepercayaan kepada anak untuk melakukan pekerjaan ini, maka dia akan mengeluarkan semua kemampuannya yang terbaik untuk melaksanakan pekerjaan ini.




*PERKUAT JIWA TANGGUNG JAWAB DALAM DIRINYA


Kenapa kita melarang mereka untuk mencoba melakukan berbagai tugas yang telah di program secara bertahap dan sudah di pelajari keefektifannya , yang akan mengajarkan kepada mereka bagaimana cara melaksanakan tugas yang dibebankan kepada mereka.

Salah seorang kenalanku mengatakan kepadaku tentang pengalaman yang dia lihat dengan mata kepalanya sendiri di tempat kerjanya di Venezuela. Dia berkata, “Ada salah seorang pengusaha Yahudi yang menjalankan pabrik pakain jadi, kemudian datang anaknya yang masih muda untuk bekerja dengannya, dan dia duduk di meja kerja bapaknya, sehingga dia merasa bahwa dia adalah seorang direktur dan mempunyai posisi yang besar seperti bapaknya. Akan tetapi sang bapak berkata kepada anaknya. “Aku ingin engkau memulai kerjamu sebagaimana aku dulu memulainya, aku datang ke negara ini tanpa memiliki apa-apa, maka aku bawa beberapa pakaian dan aku jual di jalan-jalan dengan berjalan kaki, dan engkau harus memulai sebagaimana aku memulai, berpegang pada dirimu sendiri dan rasakan penderitaan yang dulu aku rasakan, dengan begitu engkau akan mempunyai kemampuan untuk mengatur kerjamu dan berhasil dalam kehidupanmu, sebagaimana yang kamu lihat aku sekarang. “ Maka anak muda ini melaksanakan nasihat bapaknya, dia bekerja dengan sunguh-sungguh, dan selalu berusaha untuk bertanggung jawab dan berdikari, jauh dari sifat foya-foya, atau hidup di bawah tanggungan bapaknya. Setelah beberapa tahun, dia mampu mendirikan pabrik pakaian jadi dengan usahanya sendiri, sebagaimana yang dilakukan oleh bapaknya, dan dia mampu menggeluti bidang ini secara sempurna, sehingga dia mempunyai posisi yang diperhitungkan di antara para pengusaha yang lainnya.



*SERAHKAN TANGGUNG JAWAB KEPADANYA


Orang tua senantiasa berusaha untuk menyerahkan tanggung jawab keapada anaknya, dan mengawasinya dari jauh. Agar kita dapat menempuh cara ini , maka kita harus melewati  berbagai tahapan berikut.
  • melatih anak untuk memecahkan permasalahan yang dia hadapi dengan menentukan permasalahan itu secara jelas, sehingga permasalahan itu menjadi ringan, dan anak dapat menghadapinya tanpa campur tangan orang tua.
  • Ketika kita mau membiasakan anak untuk berdikari, maka jauhkan rasa gelisah dan takut kita terhadap anak. Ketika memberikan anak tanggung jawab terhadap pekerjaan yang dia lakukan, hal tersebut akan menambah rasa kepercayaan dirinya dan kemampuannya.

Ketika kita memberikan tanggung jawab kepada anak, maka dalam proses yang seperti ini dibutuhkan adanya kemampuan komunikasi dengan anak, agar kita dapat mewujudkan tujuan yang kita inginkan.
Contoh kemampuan komunikasi:
  1. Mengungkapkan perasaan. “Telah berkali-kali aku katakan bahwa hubunganmu dengan saudara-saudaramu itu negativ, dan aku selalu mendorongmu untuk memperlakukan mereka dengan baik, bukan memukul mereka.”
  2. Memberikan tanggung jawab. “Mulai saat ini, aku menganggap ini adalah tanggung jawabmu.”
  3. Menanamkan kepercayaan. “Aku mempunyai keyakinan bahwa engkau mempunyai kemampuan untuk memperlakukan saudara-saudaramu dengan rasa hormat, dan memberikan contoh yang benar. “


*ORANG TUA HARUS MEMPUNYAI KEMAMPUAN BERKOMUNIKASI KETIKA BERBICARA DENGAN MEREKA



Contoh kemampuan berkomunikasi.
  1. Menggambarkan permasalahan tanpa komentar: “Ibumu telah memberitahukan kepadaku bahwa engkau telah berlaku kasar terhadap saudara-saudaramu.”
  2. Gambarkan perasaanmu. “Aku merasa jengkel kepadamu terhadap permasalahan ini karena aku berharap engkau berlaku baik terhadap saudara-saudaramu , dan aku akan merasa lebih bahagia lagi jika engkau berhenti memukul mereka.”
  3. Jelaskan apa yang engkau inginkan darinya untuk dia lakukan : ‘Dengan perlakuanmu yang seperti itu terhadap saudara-saudaramu, maka tidak akan ada satu orang pun di rumah ini yang menghormatimu dan menaruh kepercayaan padamu.”
  4. Kenali perasaan anakmu. “Aku tahu bahwa engkau tidak mau membuat persoalan di rumah ini.”
  5. Sebutkan apa yang ingin engkau kembangkan dalam diri anakmu dengan memberikan kesempatan baginya untuk menyelesaikan permasalahan. “Aku ingin kelakuanmu menjadi baik, aku tahu bahwa engkau mempunyai kemampuan untuk menyelesaikan permasalahanmu tanpa adanya campur tangan dariku.”
  6. Berikan sedikit bantuan kepadanya. “Aku dapat memberikan bantuan kepadamu pada beberapa persoalan yang sulit, yang telah berusaha kau selesaikan, akan tetapi engkau tidak mampu dan gagal.”
  7. Beri kepercayaan pada anakmu. “Aku mempunyai kepercayaan yang penuh kepadamu bahwa engkau mampu untuk melewati berbagai persoalan.”
  8. Jelaskan peranmu dalam permasalahan ini. “Aku tidak akan mampu membantumu dalam menyelesaikan permasalahanmu, sehingga engkau harus mampu memikul tanggung jawab dengan baik.”



*HASIL-HASIL YANG DIPEROLEH KETIKA KITA MENYERAHKAN TANGGUNG JAWAB KEPADA ANAK


Ketika kita menjalani  fase pemberian tanggung jawab kepada anak, maka kita harus mengetahui beberapa keistimewaan  fase ini.
  1. Memberikan anak rasa kepercayaan kepada dirinya dan pada kemampuannya untuk mengambil keputusan, dan membiasakan dia untuk memikul tanggung jawab.
  2. Daripada kita bertengkar dengannya, maka lebih baik kita mendorong dia untuk mencari jalan keluar bagi permasalahnnya.



*ANGKAT DIA KE ARAH YANG TINGGI DAN MULIA


Kebutuhan terhadap rasa tanggung jawab menjadikan anak mengalahkan keinginan dan syahwatnya, agar dia dapat naik ke tingkat yang tinggi dan mulia. Juga lahir dalam dirinya ambisi yang tinggi, yang membuat dia berkomitmen dengan keyakinan dan nilai-nilai dirinya, memenuhi janjinya, dan membina hubungan social yang berlandaskan ahlak yang tinggi dan mulia.



*ORANG YANG PALING BAIK ADALAH HAMBA ALLAH


Dari Ibnu Umar r.a. berkata, “Ada seorang laki-laki di zaman Rasullulah yang jika dia melihat sebuah mimpi, maka  dia ceritakan kepada Rasullulah, dan aku berharap melihat mimpi untuk aku ceritakan kepada Rasullulah. Aku ketika itu merupakan seorang anak muda, dan aku tidur di masjid pada masa Rasullulah saw. pada suatu malam, aku melihat mimpi di dalam tidurku, seakan-akan dua orang malaikat membawaku ke neraka, yang berupa lembah seperti sumur yang dilapisi batu, dan didalamnya aku lihat orang-orang yang aku kenal, maka setelah melihat mimpi tersebut aku  berucap a’uzubillahi min annaar. Dan aku jumpai malaikat yang lain, dan dia berkata kepadaku , “Berapa yang engkau urus ?” Maka aku ceritakan mimpiku itu kepada Hafsah, dan dia menceritakannya kembali kepada Rasulullah, maka Rasulullah bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah Hamba Allah jika dia melakukan shalat malam, maka setelah itu dia tidur sedikit saja pada malam hari,” (HR Bukhari).

Rasulullah memuji Ibnu Umar dengan perkataannya, “Sebaik-baik manusia adalah hamba Allah,” dan mengisyaratkan kepadanya hal yang dia lalaikan dengan cara yang mengena dalam jiwa dengan perkataannya, “Jika dia melakukan shalat malam.”


*BERIKAN DIA KEBEBASAN UNTUK MEMILIH


Yang paling penting adalah berikan anak kebebasan dan kepercayaan, dan menghindari untuk menolongnya ketika muncul berbagai kendala dalam kehidupannya, berikan kesempatan baginya untuk menghadapi berbagai persoalannya sendiri, dan mencari cara yang tepat untuk menanganinya. Yang paling baik adalah apabila kita biarkan dia menyelesaikan apa yang sedang dia lakukan, tanpa ada campur tangan dari kita, kecuali apabila dia telah berkali-kali mencoba untuk menyelesaikan persoalannya akan tetapi dia tidak berhasil, maka kita berikan dia kunci jalan keluar, dan kita berikan bantuan kepadanya berupa isyarat  bukan dengan cara yang terang-terangan dan langsung. Dengan cara yang seperti itu, kita menghindari anak dari ketergantungan kepada keluarganya, dan sengaja memberikan tanggung jawab kepadanya untuk berusaha mencari jalan keluar yang tepat bagi persoalannya.

Dengan memberikan anak kebebasan untuk memilih, menjadikan dia mampu untuk mengambil keputusan sendiri, meskipun terkadang dia melakukan beberapa kesalahan. Yang terpenting dia mampu melewati permasalahannya dan dia dapat menyelami dasar dirinya dalam rangka mencari lebih banyak lagi sumbangsih yang akan dia berikan dari dalam dirinya. Dengan begitu, lahir dalam dirinya rasa percaya diri dan perasaan berhasil.




*UTUS DIA UNTUK MENYELESAIKAN URUSANMU


Anak-anak para sahabat Rasulullah saw. ikut  menghadiri majelis Rasulullah saw., dan Umar r.a. membawa anaknya ke majelis Rasulullah, diriwayatkan dari Ibnu Umar r.a. dia berkata Rasulullah bersabda, “Katakan kepadaku tentang sebuah pohon yang seperti muslim, yang datang buahnya setiap saat dengan izin Allah swt. Untuk dimakan dan yang tidak ada daun di bawahnya.” Dan aku tahu yang di maksudkan adalah pohon kurma, akan tetapi aku tidak mau berbicara, dan disana ada Abu Bakar dan Umar, manakala mereka berdua tidak berbicara, Rasulullah saw. Berkata “itu adalah pohon kurma.” Ketika aku keluar dengan bapakku dari majelis tersebut, aku berkata,”Ya bapak, aku tahu bahwa yang dimaksud Rasulullah adalah pohon kurma.” Bapakku berkata, “Apa yang menahan engkau untuk mengatakannya, aku lebih senang jika engkau katakan jawabannya daripada engkau bersikap begini dan begitu.”Dia berkata,”Yang melarangku adalah aku melihat engkau dan Abu Bakar tidak mau berbicara, maka aku tidak mau berbicara.”Dan dalam satu riwayat dikatakan,”Karena aku adalah orang yang paling muda disitu, maka aku diam.”(HR Bukhari dan Muslim).

Yang sangat disayangkan, banyak kita dapati para orang tua dan pendidik yang tidak memberikan kesempatan kepada anaknya untuk duduk dengan para tamu dirumahnya, atau menjamu mereka dan memberikan salam kepada mereka. Bukanlah sesuatu yang berlebihan jika kami katakan bahwa ada beberapa orang tua yang melarang anak-anak remaja mereka untuk bergaul dengan para tamu. Dan duduk dengan mereka, dengan alasan bahwa mereka tidak suka jika anak-anak mendengarkan pembicaraan dan permasalahan orang dewasa. Maka bagaimana bisa orang-orang seperti itu membawa anak-anak mereka ke majelis umum, mengahadiri berbagai pertemuan, mengikuti berbagai pengajian agama dan seminarpendidikan yang berguna bagi anak, yang dapat mempertajam otaknya, menjadikannya lebih matang dan lebih peka dengan berbagai perkara dan persoalan kehidupan.




0 komentar:

Posting Komentar