SUDUT PANDANG

on Kamis, 25 Juni 2015

SUDUT PANDANG

Saat hidung ini dibilang untuk mengirup udara, kejadian luar biasanya  adalah saat anak umur 4 tahun bilang hidung itu untuk “ngupil”, apakah ada yang salah dalam pemikiran anak ini dan dibenak kita dalam sesaat ?  . . . yap, dia adalah “sudut pandang “,  jika anak sekecil itu saja sudah mulai untuk berbeda, apakah kita sebagai orang dewasa selalu mempunyai kecendrungan untuk memaksakan pendapat kita, yang ada kalanya sebuah pendapat biarlah jadi sebuah pendapat, menjadi sebuah wacana, yang sejatinya pendapat mayoritas akan kalah masuk akal di banding pendapat minoritas, pendapat yang lebih tua akan selalu benar adanya ? kalau Slank bilang “ bener ngga bener, orang yang tua, sudah pasti bener, suruh menyuruh, larang melarang, dia, dia yang paling bener” lantas apa kata dunia ?

Ada yang berbeda dalam pemahaman kita dalam melihat akan sesuatu, akan sebuah masalah, akan sebuah kejadian, seperti dalam menikmati segelas parutan lemon beku dingin yang di campur teh, dalam seorang ibu rumah tangga menerapkan metode mendidik sang anak, pembunuhan anak kecil yang biadab, anak gadis yang dibawa kabur teman facebook nya, gubernur yang temperamental, anak yang di tabrak motor patwal, tukang ojek dan taxi yang dipesan cukup lewat hp, KPK yang kalah di praperadilan, karyawati yang diperkosa di angkot, postingan kita di media sosial yang over sharing, tulisan tulisan di blog, gaji seorang bos dan karyawannya, jodoh yang tidak kunjung datang, jerawat yang terus bertambah, harga sembako yang melangit menjelang hari raya Idul Fitri, isu gelombang phk besar-besaran setelah Idul Fitri tahun ini, prasangka buruk kita terhadap pemerintah yang tidak akan memihak kepada rakyat kecil, PSSI yang sibuk lagi nge band, lokalisasi prostitusi, lokalisai judi, Lia Eden yang sibuk minta parkir buat ufo mendarat, shalat tarawih sebelas atau dua puluh tiga rakaat, shalat subuh yang pakai qunut atau tidak, Insya Allah atau In Shaa Allah, saat speaker masjid mulai terasa nyaring jam tiga dini hari memutar pengajian rekaman dari kaset “sony”, heboh baca Al’Quran dengan logat jawa di istana, Islam liberal, Islam nusantara, naqsyabandiyah, ahmadiyah dan dalam segala hal tetek bengek yang ada, dan tentu saja itu semua bisa diukur seiring nalar kita yang  makin lama makin peka terhadap kejadian yang kita temui.

Ada tiga sudut pandang yang populer yang kita ketahui, sudut pandang orang ketiga, yaitu melihat sesuatu dari sudut orang lain, sudut pandang orang pertama yaitu saya sendiri, seperti  sekarang ini, saya sedang menulis tulisan ini, yang saya ingin sampaikan dari sudut saya sendiri tentunya, dan yang terakhir adalah sudut pandang campuran, sudut orang lain dan kita sendiri. Analogi yang saya pahami, bahwa hidup ini seperti sebuah cerita, yang terdiri dari sudut pandang diatas, cerita dan penulisan yang baik adalah mengungkapkan fakta dari semua sudut pandang yang ada, namun dalam kenyataannya, tidak semua orang bisa memahami yang di maksud “cerita kehidupan” ini, harus ada usaha ekstra keras untuk bisa menikmati cerita yang disuguhkan kepada kita, yang menguras pikiran kita, mengapa sebuah cerita bisa memiliki plot yang demikian sempurna, yang otak manusia pun tidak bisa menerima kenyataan plot tersebut, maka ditengah kegalauan tersebut, hadirlah ditengah tengah kita apa yang dinamakan “agama”. Rupanya sang Pencipta ingin kita, menikmati sebuah cerita dengan plot  yang sangat sempurna, dengan memberi kisi-kisi yang sebagian besar ada di dalam agama itu sendiri, jadi untuk anda yang atheis, sayang sekali anda tidak bisa “menikmati  cerita kehidupan” ini dari berbagai sisi manapun, dan yang tidak kalah serunya, siapa lagi kalau bukan antara sesama pemeluk agama itu sendiri, yang saling memberikan cara atau metode dalam menikmati cerita kehidupan ini, yang lagi-lagi menurut mereka paling okeh, paling benar, dan pantas untuk di rujuk, dari tingkat kenikmatannya, sampai rentetan efek dari kenikmatan tersebut.
Memperbanyak sudut pandang sudah pasti akan menjadikan kita semakin bijaksana, bijaksana dalam hal apapun, dalam hal pertemanan, kehidupan suami isteri, ke-agamaan, gaya hidup.  Dengan berbekal sudut pandang yang kita punya saat ini, kita dengan rileks nya melangkah dengan pasti, siap menjumpai hal-hal baru, situasi baru, berharap kita belajar akan hikmah dibalik itu semua.  Setelah semua itu dilalui, masihkah ada terbesit di otak manusia, bahwa ilmu kita sangat terbatas, yang membuat kita harus bertoleransi  akan kelemahan tersebut,   itulah point penting dalam sebuah sudut pandang, toleransi yang penuh ke ikhlasan, kita memang berbeda, tapi kita sama-sama manusia, kemanusiaan di balik kelemahan kebencian akan ras,  kemanusiaan yang memanusiakan manusia, maka hiduplah dengan berjuta sudut pandang dengan toleransi yang penuh keikhlasan dan rasa syukur, bahwa kita adalah sama-sama manusia.

Saya rasa sudut pandang adalah salah satu pengurai masalah yang dapat kita andalkan yang kita jumpai dalam kehidupan kita bersosialisasi , yang terbenam jauh di otak kita yang tanpa sadar sangat besar dalam pengaruh gaya hidup kita sehari-hari.  Saya berkhayal di masa depan akan dibuat “mata pelajaran” sudut pandang, mata pelajaran yang mengajari kita cara menghadapi situasi unik dan tak terduga, dengan melihat suatu masalah dari berbagai arah, tanpa menyalahkan apa yang tidak kita pahami sesungguhnya.


NB : Gile juga loh ndro, ngolor ngidul, nulis beginian, sebenernya masih mau nulis, tapi ko lama-lama laper juga nih hahaha mudah-mudahan ente semua bisa ngertiin cuap-cuapan ane, pokonya kalo ente pada ngga ngerti , ane denda,  hahaha.  Ngga terasa baget, hari cepet banget berlalu, kayanya kemaren masih perjaka, masih gagah-gagahan, masih kasak kusuk, eh hari ini tgl 25 Juni ternyata ane ultah, *ngga penting ya, ngasih tau doang sih hehehe, ultah  yang ke . . .  18+, ternyata ane masih muda bingits ya, Alhamdulillah hehehe . . . kalo  si otong mah, muda selalu kayanya hahaha, . . . eh, kenapa ke otong-otong segala sih J, balik lagi ke tulisan dong bray, sebenernya ini ditulis setelah ada kejadian kontroversi di istana tuh bray, pasti pada tau lah kasusnya, nah silahkan pada berpendapat, asal jangan pada berantem, main gebuk-gebukan, udah ngga jaman bray, udah ngga gimana gitu, dan pesan singkat dari ane, mulai sekarang ente kumpulin sudut pandang sebanyak-banyaknya, sampe kita ngga pernah merasa bahwa hidung itu adalah untuk meng-“upil”, salam hangat dari ane, terimakasih. 

0 komentar:

Posting Komentar