SUDUT PANDANG
Saat hidung ini dibilang untuk mengirup udara, kejadian luar
biasanya adalah saat anak umur 4 tahun
bilang hidung itu untuk “ngupil”, apakah ada yang salah dalam pemikiran anak
ini dan dibenak kita dalam sesaat ? . .
. yap, dia adalah “sudut pandang “, jika
anak sekecil itu saja sudah mulai untuk berbeda, apakah kita sebagai orang
dewasa selalu mempunyai kecendrungan untuk memaksakan pendapat kita, yang ada
kalanya sebuah pendapat biarlah jadi sebuah pendapat, menjadi sebuah wacana, yang
sejatinya pendapat mayoritas akan kalah masuk akal di banding pendapat
minoritas, pendapat yang lebih tua akan selalu benar adanya ? kalau Slank
bilang “ bener ngga bener, orang yang tua, sudah pasti bener, suruh menyuruh,
larang melarang, dia, dia yang paling bener” lantas apa kata dunia ?
Ada yang berbeda
dalam pemahaman kita dalam melihat akan sesuatu, akan sebuah masalah, akan sebuah
kejadian, seperti dalam menikmati segelas parutan lemon beku dingin yang di
campur teh, dalam seorang ibu rumah tangga menerapkan metode mendidik sang
anak, pembunuhan anak kecil yang biadab, anak gadis yang dibawa kabur teman
facebook nya, gubernur yang temperamental, anak yang di tabrak motor patwal, tukang
ojek dan taxi yang dipesan cukup lewat hp, KPK yang kalah di praperadilan,
karyawati yang diperkosa di angkot, postingan kita di media sosial yang over
sharing, tulisan tulisan di blog, gaji seorang bos dan karyawannya, jodoh yang
tidak kunjung datang, jerawat yang terus bertambah, harga sembako yang melangit
menjelang hari raya Idul Fitri, isu gelombang phk besar-besaran setelah Idul
Fitri tahun ini, prasangka buruk kita terhadap pemerintah yang tidak akan memihak
kepada rakyat kecil, PSSI yang sibuk lagi nge band, lokalisasi prostitusi, lokalisai
judi, Lia Eden yang sibuk minta parkir buat ufo mendarat, shalat tarawih
sebelas atau dua puluh tiga rakaat, shalat subuh yang pakai qunut atau tidak, Insya
Allah atau In Shaa Allah, saat speaker masjid mulai terasa nyaring jam tiga dini
hari memutar pengajian rekaman dari kaset “sony”, heboh baca Al’Quran dengan
logat jawa di istana, Islam liberal, Islam nusantara, naqsyabandiyah, ahmadiyah
dan dalam segala hal tetek bengek yang ada, dan tentu saja itu semua bisa
diukur seiring nalar kita yang makin
lama makin peka terhadap kejadian yang kita temui.
Ada tiga sudut pandang yang populer yang kita ketahui, sudut
pandang orang ketiga, yaitu melihat sesuatu dari sudut orang lain, sudut
pandang orang pertama yaitu saya sendiri, seperti sekarang ini, saya sedang menulis tulisan
ini, yang saya ingin sampaikan dari sudut saya sendiri tentunya, dan yang
terakhir adalah sudut pandang campuran, sudut orang lain dan kita sendiri.
Analogi yang saya pahami, bahwa hidup ini seperti sebuah cerita, yang terdiri
dari sudut pandang diatas, cerita dan penulisan yang baik adalah mengungkapkan
fakta dari semua sudut pandang yang ada, namun dalam kenyataannya, tidak semua
orang bisa memahami yang di maksud “cerita kehidupan” ini, harus ada usaha
ekstra keras untuk bisa menikmati cerita yang disuguhkan kepada kita, yang
menguras pikiran kita, mengapa sebuah cerita bisa memiliki plot yang demikian
sempurna, yang otak manusia pun tidak bisa menerima kenyataan plot tersebut,
maka ditengah kegalauan tersebut, hadirlah ditengah tengah kita apa yang
dinamakan “agama”. Rupanya sang Pencipta ingin kita, menikmati sebuah cerita
dengan plot yang sangat sempurna, dengan
memberi kisi-kisi yang sebagian besar ada di dalam agama itu sendiri, jadi
untuk anda yang atheis, sayang sekali anda tidak bisa “menikmati cerita kehidupan” ini dari berbagai sisi
manapun, dan yang tidak kalah serunya, siapa lagi kalau bukan antara sesama
pemeluk agama itu sendiri, yang saling memberikan cara atau metode dalam
menikmati cerita kehidupan ini, yang lagi-lagi menurut mereka paling okeh, paling
benar, dan pantas untuk di rujuk, dari tingkat kenikmatannya, sampai rentetan
efek dari kenikmatan tersebut.
Memperbanyak sudut pandang sudah pasti akan menjadikan kita
semakin bijaksana, bijaksana dalam hal apapun, dalam hal pertemanan, kehidupan
suami isteri, ke-agamaan, gaya hidup. Dengan
berbekal sudut pandang yang kita punya saat ini, kita dengan rileks nya
melangkah dengan pasti, siap menjumpai hal-hal baru, situasi baru, berharap
kita belajar akan hikmah dibalik itu semua. Setelah semua itu dilalui, masihkah ada
terbesit di otak manusia, bahwa ilmu kita sangat terbatas, yang membuat kita
harus bertoleransi akan kelemahan
tersebut, itulah point penting dalam sebuah sudut
pandang, toleransi yang penuh ke ikhlasan, kita memang berbeda, tapi kita
sama-sama manusia, kemanusiaan di balik kelemahan kebencian akan ras, kemanusiaan yang memanusiakan manusia, maka
hiduplah dengan berjuta sudut pandang dengan toleransi yang penuh keikhlasan
dan rasa syukur, bahwa kita adalah sama-sama manusia.
Saya rasa sudut pandang adalah salah satu pengurai masalah
yang dapat kita andalkan yang kita jumpai dalam kehidupan kita bersosialisasi ,
yang terbenam jauh di otak kita yang tanpa sadar sangat besar dalam pengaruh
gaya hidup kita sehari-hari. Saya
berkhayal di masa depan akan dibuat “mata pelajaran” sudut pandang, mata
pelajaran yang mengajari kita cara menghadapi situasi unik dan tak terduga,
dengan melihat suatu masalah dari berbagai arah, tanpa menyalahkan apa yang
tidak kita pahami sesungguhnya.
NB : Gile juga loh ndro, ngolor ngidul, nulis beginian, sebenernya
masih mau nulis, tapi ko lama-lama laper juga nih hahaha mudah-mudahan ente
semua bisa ngertiin cuap-cuapan ane, pokonya kalo ente pada ngga ngerti , ane
denda, hahaha. Ngga terasa baget, hari cepet banget berlalu,
kayanya kemaren masih perjaka, masih gagah-gagahan, masih kasak kusuk, eh hari
ini tgl 25 Juni ternyata ane ultah, *ngga penting ya, ngasih tau doang sih hehehe,
ultah yang ke . . . 18+, ternyata ane masih muda bingits ya, Alhamdulillah
hehehe . . . kalo si otong mah, muda
selalu kayanya hahaha, . . . eh, kenapa ke otong-otong segala sih J, balik lagi ke tulisan
dong bray, sebenernya ini ditulis setelah ada kejadian kontroversi di istana
tuh bray, pasti pada tau lah kasusnya, nah silahkan pada berpendapat, asal
jangan pada berantem, main gebuk-gebukan, udah ngga jaman bray, udah ngga
gimana gitu, dan pesan singkat dari ane, mulai sekarang ente kumpulin sudut
pandang sebanyak-banyaknya, sampe kita ngga pernah merasa bahwa hidung itu
adalah untuk meng-“upil”, salam hangat dari ane, terimakasih.

0 komentar:
Posting Komentar